Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Sabtu, 27 Maret 2010

KETAATAN


Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku berdoa." Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah." Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga. Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya. Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Markus 14:32-42


Di dalam kemiliteran, hal yang paling utama bukan pengetahuan bagaimana seorang prajurit baris-berbaris dan menggunakan senjata untuk menembak, namun yang terutama adalah ia tahu bagaimana taat kepada perintah komandannya. Tanpa ketaatan apalah artinya semua pengetahuan dan keterampilannya.

Demikian juga dengan murid-murid yang mengikut Yesus. Petrus, Yohanes, Yakobus yang telah melayani bersama-sama dengan Yesus selama ±3,5 tahun. Mereka juga telah bergaul intim dengan Yesus selama itu. Namun mereka masih belum menunjukkan ketaatan yang benar. Saat disuruh untuk duduk dan berjaga-jaga selama 1 jam saja, mereka akhirnya tertidur.

Berbeda dengan Yesus, Yesus yang adalah Allah (saat itu Yesus juga adalah manusia) seharusnya mampu untuk menolak disalibkan dan menyuruh yang lain untuk menggan-tikannya. Tapi Yesus tetap taat kepada Allah. Yesus menyatakan diriNya sebagai hamba dan
Anak Allah yang taat.:
Ketaatan yang didasari rasa percaya yang besar kepada Bapa-Nya. Ketika Ia berdoa dan memanggil “Ya Abba, ya Bapa,” ada nuansa keintiman, penyerahan, kasih, dan kepercayaan yang dalam kepada Bapa-Nya.
Ketaatan yang demikian membawa Yesus kepada satu titik, menyerahkan “kehendakNya” tunduk kepada kehendak Bapa-Nya. Meski, ada keinginan supaya “cawan (hukuman di kayu salib) diambil dari-Nya,” Ia memilih untuk lebih menaati kehendak Bapa. Ia menempatkan kehendak Bapa di tempat yang teratas. Mengasihi Bapa-Nya (dengan cara melaksanakan kehendak Bapa) lebih penting bagi-Nya daripada perasaanNya saat itu.
Ketaatan yang sempurna dari Yesus teruji dalam situasi krisis. Doa Yesus ini diletakkan dalam situasi genting dan traumatis. Ia sedang menghadapi Golgota. Ia sangat takut, sedih, dan mau mati rasanya. Namun ketakutanNya bukan karena Ia harus mati, tetapi karena Ia telah “menjadi dosa manusia,” dan karenanya, “menjadi sasaran murka Allah.” Ia begitu menderita karena sebentar lagi, Ia akan menyaksikan “Allah Bapa-Nya akan memalingkan muka dari-Nya.” Ia akan diabaikan oleh Bapa yang sangat dikasihi dan mengasihiNya. Meskipun begitu, Yesus tetap taat, dan ketaatan yang demikian adalah ketaatan yang sempurna.
Sebentar lagi kita akan memperingati hari kematian dan kebangkitan Yesus. Karena itu, marilah kita mengenang kembali hari dimana Yesus harus mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia. Tanpa penebusan yang dilakukan Yesus, ketaatNya kepada Bapa, tidak akan pernah ada anugerah dan keselamatan bagi kita. Marilah kita juga mencontoh ketaatan Yesus. Mungkin pada awalnya susah bagi kita untuk melakukannya, tetapi bila kita sungguh-sungguh mau melakukannya Allah akan memampukan kita. Amin!
Oleh:Bpk.Andi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar