Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Kamis, 03 Oktober 2013

MY DREAM

"Aku punya impian (I have a dream)!" Apakah kata-kata ini kedengarannya tidak asing lagi bagi kita? Ini adalah kata-kata terkenal dari Pdt. Martin Luther King. Seorang aktivis Amerika keturunan Afrika, beliau menyampaikan pidato yang menggebu-gebu ini sewaktu berkampanye melawan diskriminasi ras di Amerika. Demi impian itu beliau harus menyerahkan nyawanya dengan dibunuh.

Apakah anda mempunyai impian? Apakah impian anda itu? Apakah anda siap mati demi impian anda seperti Pdt. Martin Luther King? Di Amerika,banyak sekali kota-kota dimana jalan-jalannya diberi nama Martin Luther King. Kelihatannnya impian beliau itu mempunyai dampak yang besar terhadap masyarakat Amerika. Beliau telah menjadi suatu lambang pengharapan, seorang idola bagi masyarakat Amerika. Karena impian beliau itulah sekarang ini orang-orang Amerika keturunan Afrika mempunyai status dan posisi yang jauh lebih baik di Amerika. Apakah impian itu begitu berharganya sehingga pantas untuk mengorbankan nyawa? Di sini kelihatan jelas kalau kematian Pdt. Martin Luther King merupakan faktor yang berpengaruh kuat di dalam penggenapan impian tersebut.

Impian Anda Menentukan Hidup Anda
Impian anda menentukan arah hidup anda. Jika anda tidak mempunyai impian, ini berarti anda tidak mempunyai arah hidup. Jika impian anda adalah agar dapat memiliki rumah dan mobil yang bagus, hal itu akan menjadi segala-galanya di dalam hidup anda. Bila pada akhirnya anda memiliki rumah dan mobil tersebut, anda tidak akan mempunyai impian lagi. Impian anda telah terkabul dan berakhir.
Saya ingin membicarakan mimpi-mimpi anda yang indah itu. Dan saya juga ingin membicarakan kenyataan hidup yang keras yang dapat merubah impian indah menjadi impian buruk.
Sebagai orang-orang Kristen, kita harus menjadi tukang mimpi. Allah menjanjikan kita menjadi tukang mimpi di saat Dia memberikan Roh Kudus kepada kita. "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan"
(Yoel 2:28, Kisah Para Rasul 2:17).
Yang menjadi beban pikiran bagi saya adalah kenyataan begitu sedikitnya orang Kristen yang mempunyai penglihatan atau mimpi. Allah mengilhamkan mimpi kepada kita. Tidak ada hal yang lebih menjenuhkan atau membosankan selain daripada orang Kristen yang tidak mempunyai penglihatan atau impian. Mereka adalah orang-orang Kristen tanpa Roh Allah. Bila orang-orang tidak mempunyai penglihatan, Alkitab berkata, orang-orang tersebut binasa.

Mengapa Impian Kita Gagal?
Meskipun kita harus menjadi tukang mimpi, kita perlu mempunyai pengertian jelas akan kerasnya kenyataan hidup jikalau kita ingin mewujudkan impian kita.
Mengapa impian kita gagal? Impian itu gagal karena kita tidak bisa bertahan menghadapi tantangan kekerasan hidup. Inilah yang disebut dosa dalam hati kita. Dosa selalu merubah impian indah menjadi impian buruk. Kita mengetahui hal ini melalui pengalaman kita sendiri. Di dalam pernikahan, kedua mempelai memulai hidup baru mereka dengan memasuki sebuah impian yang indah. Lihatlah cara mereka memandang satu sama lain, cara mereka tersenyum dikala berbincang-bincang satu sama lain.
Upacara pemberkatan pernikahan di gereja, alunan musik organ, rangkaian bunga-bunga, pengantin wanitanya dengan gaun putih, pengantin prianya dengan jas hitam yang elegan - benar-benar sebuah impian! Saya telah memimpin banyak upacara pemberkatan pernikahan, dan saya selalu berdoa, "Semoga mimpi ini tidak akan berakhir." Tetapi dengan tidak tersangka sama sekali, mereka seolah-olah terbangun dari mimpinya dan mulai bertengkar serta berkelahi. Tidak lama kemudian pasangan yang sama itu datang kepada saya untuk konseling perkawinan.

Bagaimanakah Sebuah Impian Indah Berubah Menjadi Impian Buruk?
Apa yang terjadi dengan mimpi indah tersebut yang sekarang telah menjadi mimpi buruk? Suatu kali saya dipanggil malam-malam oleh sepasang suami-istri yang meminta konseling perkawinan. Selama dua jam saya mendengarkan impian indah mereka yang sekarang telah menjadi impian buruk. Sang istri tidak berhenti-hentinya menangis. Benar-benar mimpi yang buruk!
Tetapi anda berkata hidup kekristenan itu sendiri adalah sebuah mimpi buruk. Ada mimpi indah apa lagi yang tersisa di dalam hidup itu?
Kita mempunyai Allah yang kudus dan benar yang memperhatikan setiap gerak-gerik kita, yang siap untuk menghukum setiap kali kita gagal. Setiap hari kita bergumul dengan dosa, seringkali tanpa kemenangan. Jika hal ini belum menjadi mimpi buruk, sedikitnya hal ini sudah cukup untuk membuat kita sakit kepala. Pada akhirnya, kita harus merangkak ke hadapan Allah dan memohon berulang-ulang, "Ampuni aku, ampuni aku, ampuni aku."
Sepertinya seluruh hidup kekristenan kita itu penuh dengan kesalahan. Jadi bila kita baca Filipi 4:4 dan 1 Timotius 6:17 yang terdapat di dalam kedua pesan yang lalu, dimana Paulus membicarakan tentang kesukacitaan dan Allah yang memberi kita segalanya untuk dinikmati, kelihatannya hal tersebut adalah hal kekristenan yang berbeda yang kita tidak mengerti sama sekali.

Dosa Menghancurkan Impian Kita
Dosalah yang menghancurkan impian kita. Kalau kita lihat kata "dosa" ini, kita tidak boleh melihatnya seolah-olah Allah selalu ingin mengingatkan kita bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan mengancam kita dengan kengerian neraka. Kadang-kadang kita membayangkan Allah itu seperti ayah kita sendiri, yang bisa jadi seorang yang sangat keras dan tidak masuk akal. Tetapi Allah tidaklah demikian. Sebaliknya, kita harus memandang hal ini dari segi kasihNya untuk kita sebagai keinginanNya untuk menyelamatkan kita dari dosa. Dia ingin kita mengerti kasihNya, dan dengan penuh kasih Dia memberitahu kita, "Aku mengasihimu, Aku ingin memberitahukan kasihKu kepadamu."

Dosa merusak kualitas hidup kita. Dosa menghilangkan kesukacitaan meskipun dosa dapat memberikan kesenangan sementara (Ibrani 11:25). Kalau dosa tidak mampu memberikan kesenangan kepada kita, tak ada seorangpun yang akan berdosa. Manusia melakukan sesuatu karena mereka sedang mencari kualitas hidup yang lebih baik. Jadi kalau dosa bisa memberi sedikit kesenangan meskipun hanya untuk sementara saja, mengapa tidak?

Tetapi anda harus memikirkan konsekuensinya lebih jauh lagi. Anda menginginkan kesukacitaan jangka panjang, bukan kesenangan jangka pendek. Demi kesenangan karena mendapatkan sesuatu dengan cuma-cuma, banyak orang yang mencuri di toko-toko. Ada beberapa pencuri toko yang tertangkap dan akibatnya masa depan mereka hancur oleh karena catatan kriminal mereka. Dosa macam inilah yang mengubah impian indah menjadi impian buruk bagi setiap orang.

Dosa memutuskan tali perkawinan. Perkawinan yang hancur membawa penderitaan kepada kedua belah pihak dan anak-anak serta keluarga.
Hal apakah yang menghancurkan sebuah perkawinan? Sikap yang menuntut, egois, atau dosa-dosa yang lain menghancurkan perkawinan. Untuk pasangan yang saya sebut diatas tadi dimana sang istri menangis sampai dua jam lebih, sang suami berkali-kali menegaskan, "Aku punya hak! Akulah suaminya, jadi aku punya hak!" Saya merasa capai mendengar perkataan itu, jadi saya beberkan persoalan dengan dirinya: keegoisannya yang bukan main. Dimatanya, istrinya tidak mempunyai hak apapun. Saya tidak mengerti mentalitas seperti ini dimana suami dan istri bertengkar demi hak mereka masing-masing.

Apakah Mimpi Ini?
Apakah mimpi ini? Saya adalah seorang yang sangat praktis. Bila kita membicarakan pembangunan sebuah gereja, kita harus mempunyai sebuah impian, sebuah konsep. Benar kita harus bekerja-sama, tetapi apa tujuannya? Jika kita ingin membangun struktur yang indah, terlebih dahulu kita harus bisa melihat struktur tersebut di dalam pikiran kita. Kita harus mempunyai konsep yang jelas di dalam hati kita.
Kita dipanggil untuk membangun gereja sebagai suatu masyarakat baru. Sayangnya, apabila kita merenungkan kata "gereja" sekarang ini, yang terpikir adalah sebuah bangunan, atau sekelompok manusia, besar ataupun kecil. Kita tidak memikirkan gereja sebagai suatu masyarakat baru yang dirancang oleh Allah. Di hari Pentakosta, Yoel 2 dipenuhi (sebenarnya tercatat di Kisah Para Rasul 2) - pencurahan Roh.
Oleh: Pdt. Y.R.Schramm-Mojoagung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar