Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Selasa, 09 Oktober 2012

ALAT PENAMPI

Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." Matius 3:12 
Di tangan-Nya ada nyiru untuk menampi semua gandum-Nya sampai bersih. Gandum akan dikumpulkan-Nya di dalam lumbung, tetapi semua sekam akan dibakar-Nya di dalam api yang tidak bisa padam." Matius 3:12 (BIS) 

Tempat pengirikan adalah tempat untuk memisahkan (menginjak-injak) gandum supaya terlepas dari tangkai dan kulitnya. Sedangkan alat penampi adalah wadah untuk mengangkat gandum ke atas dan ke bawah sehingga kulit gandum tertiup dan penuai mendapat gandum yang bersih. Maka proses penampian dan pengirikan ini dapat ditafsirkan sebagai tempat pemurnian gandum.

Sama seperti proses pemurnian pada gandum, proses pemurnian pada hidup kita juga mengalami proses pembebanan, seperti di injak-injak dan di banting-banting. Serasa Tuhan begitu ‘kejam’ memroses kita. Tetapi kalau kita meninjau dari aspek sehari-hari yang lazim terjadi pada diri kita seperti: kesombongan, kekerasan hati, kemegahan diri dan pikiran-pikiran yang menajiskan, maka proses pembebanan itu tidak lain untuk menghancurkan kedagingan dan kenajisan kita.
Kemudian dengan alat penampi kita akan di angkat ke atas dan ke bawah berulang-ulang sampai semua kulit gandum terpisah ditiup angin. Lalu Tuhan membakar semua debu jerami yang tidak terpakai. Dapat diartikan, Tuhan sendiri adalah api yang membakar bagian yang buruk-buruk dalam kehidupan kita.

Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 
tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." Lukas 22:31,32 
Setiap anak Tuhan akan melalui proses penampian tidak ada yang tidak. Cuma apakah saat penampian hati dan hidup kita tetap setia atau malah tergoncang.

 Ada 3 Proses Pengirikan ini:
1. Mengirik. Memisahkan gandum dengan batang jeraminya. Biasanya dipakai keledai atau sapi untuk memutar gilingan. Pengirikan ini berbicara tentang Kesusahan atau Penderitaan. Ingat bahwa penderitaan, kesusahan, pencobaan itu tidaklah selamanya. Dan Tuhan berjanji dalam firman-Nya bahwa hal itu tidak akan pernah melebihi taraf kesanggupan kita. Juga Tuhan selalu menyediakan jalan keluar, agar kita dapat menanggungnya

2. Menampi.
Memisahkan gandum dengan sekam yang kelihatannya sama, tetapi yang tidak BERBOBOT, akan terlempar dari tampian itu. Sebagai anak Tuhan, perlu kita perhatikan BOBOT kita didalam Tuhan.
Apakah hanya karena masalah yang kecil, atau karena kebodohan kita sendiri, lalu kita menyalahkan Tuhan? Ataukah kita tidak tergoncangkan? Ditengah dunia yang memang sedang Yesus goncangkan
Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Ibrani 12:26-27 

3. Membakar jerami dan sekam.
Segala yang tidak berguna dan tidak berbobot akan dibakar dalam perapian. Tuhan sedang melakukan pengirikan kepada kita agar kita dimurnikan dan berbobot. Pada waktu panen petani memanfaatkan angin untuk menampi bulir bulir gabah yang akan diirik. Biasanya mereka naik ke atas meja lalu menuangkan gabah-gabah ke tempat yang telah disediakan. Ketika angin berhembus, sekam (gabah yang tidak ada isinya) terbawa angin dan tidak jatuh di tempat yang telah disediakan untuk gabah.

Bulir-bulir gabah yang berisi akan dikumpulkan dan dibawa pulang, sedangkan sekamnya dikumpulkan untuk dibakar. Ini sama halnya dengan pola kerja Allah dalam menyaring umat yang berkualitas, berbobot, dan berisi. Melalui angin masalah, problema keuangan, keluarga, masa depan, nilai-nilai kehidupan, Tuhan menempa umat yang berkualitas

Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya Mazmur 33:18 

Penyertaan Tuhan itu sempurna bahkan rambut di bagian kepala kita saja dalam perlindungan Tuhan apalagi seluruh bagian di hidup kita.
Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Lukas 12:3 

Manusia cenderung menyukai kehormatan manusia daripada Bapa
Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Yohanes 12:42 

Bagi kehidupan, apakah kita sudah berkualitas di hadapan Tuhan? atau menjadi orang yang benar-benar mengecewakan.
Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Matius 3:10 

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. I Yohanes 2:15 

Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Yohanes 4:36 

Ada kisah tentang seorang anak remaja yang diberikan sebuah batu besar oleh Tuhan di depan rumahnya. Tuhan berpesan, “Nak, doronglah batu besar ini dengan sekuat tenagamu tiap hari!”
Remaja itu melakukan dengan setia, hingga menginjak usia pemuda. Ia heran batu itu tidak bergeser sedikit pun. Ia berusaha lebih kuat lagi, tetapi tetap tidak ada hasilnya. Akhirnya, ia menyerah dan berkata kepada Tuhan, “Ah Tuhan, aku malu. Aku harus akui bahwa aku gagal melaksanakan tugasMu. Batu itu terlalu besar bagiku.”
Tuhan menjawab dengan lembut, “Nak, siapa yang menyuruhmu menggeser batu besar itu? Aku hanya menyuruhmu mendorong batu itu sekuat tenaga setiap hari. Aku melihat dan menguji ketekunanmu. Usahamu telah membawa hasil. Tubuhmu kini menjadi kekar. Sekarang kutugaskan kamu untuk menyelamatkan desa seberang dari kelaparan. Pergilah dan perbaikilah segera jembatan yang roboh itu. Dengan kekuatanmu bawalah batang-batang pohon itu untuk membangun kembali.”

Berkat pertolongan pemuda ini, desa tersebut selamat dari kelaparan. Batu yang selama ini menjadi beban ternyata kemudian hari menjadi berkat. Dari pengalaman itu, ia mensyukuri apa yang belum ia pahami.

Seperti pepatah lama berkata, “Kita tidak dapat mengubah arah angin, akan tetapi kita selalu dapat menyesuaikan angin dengan layar perahu kita.”
 Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar