Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Kamis, 11 Februari 2010

A Y U B

Ayub selain dikatakan sebagai salah seorang terkaya di antara empat orang terkaya di dunia (barat, timur, utara, selatan), ia juga dikenal orang tersaleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Ayub 1:1-3

Ada waktu tertentu dimana anak-anak Allah dan iblis bertemu yang dimana letaknya bukan di surga. Iblis bukan maha hadir. Kalau iblis ada di satu tempat, dia tidak mungkin ada di tempat lain. Kalau Allah maha hadir. Ia ada di hati, di rumah kita, di kota kita, dan dimana-mana. Saat iblis (raja dari setan) bertemu dengan Tuhan, dia pasti tidak ada di tempat lain. Ayub 1:6-8

Saat itu Allah sedang memamerkan Ayub kepada iblis karena tidak ada orang sesaleh dan jujur yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan di seluruh dunia. Kemudian si iblis berkata itu karena Tuhan melindungi Ayub. Lalu Allah mengizinkan Ayub dicobai oleh iblis.

Saat itu Ayub yang punya anak 10 meninggal semua dan hartanya habis semua. Kalau kita secara manusia mengalami demikian pasti menjadi gila. Tetapi Ayub berbeda. Ayub 1:21-22

Bagaimana dengan kita? Saat kita menghadapi masalah hutang kita, saat kita menghadapi istri kita, suami kita, anak-anak kita, bisnis kita, persoalan hidup kita, dan masa depan kita, apa kita seperti Ayub yang mau menerima segala sesuatunya saat Ia mengambilnya sambil mengucap syukur.

Bisakah kita mengucap syukur saat sekeliling kita membenci kita, saat bisnis kita hancur, saat kita kehilangan teman, saat keluarga kita berantakan, saat tubuh kita cacat, dan saat kita mempunyai hutang banyak. Tuhan mau kita seperti Ayub yang dalam segala sesuatunya tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Lalu iblis bertemu lagi dengan Allah dan Allah tetap memamerkan Ayub yang dalam menghadapi masalah tidak berbuat dosa. Iblis kemudian meminta izin Allah untuk memberi penyakit yaitu berupa bara.

Saat bara itu ada dari ujung kepala sampai ujung kakinya, Ayub harus mengambil sekeping beling untuk menggaruk tubuhnya sambil duduk di tengah-tengah abu untuk mengurangi rasa gatalnya.

Saat Ayub menggaruk tubuhnya dengan beling, otomatis kulitnya dan dagingnya akan terkelupas, sehingga kelihatan tulangnya. Demikian juga saat beling itu menggaruk di atas kepalanya, otomatis rambut, kulit, dan dagingnya akan terkelupas hingga kelihatan tulangnya. Keadaan Ayub begitu buruknya bahkan saat sakit, ia tidak mempunyai uang satu senpun. Bahkan teman-temannya hampir-hampir tidak mengenalinya.

Walau keadaannya yang begitu buruk dan istri yang mengajarinya untuk mengutuki Tuhan dalam semuanya, Ayub tetap tidak berbuat dosa. Bahkan ia berkata: Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:10
Bagaimana dengan kita saat tekanan begitu hebat menekan kita, saat tidak terjadi pertolongan. Tuhan tahu bahwa setiap manusia bisa gagal, tetapi Tuhan ingin supaya saat kita jatuh, mampu bangkit lagi bukan tetap tinggal dalam dosa.

TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Mazmur 37:23&24
Ayub sebagai manusia pernah gagal, yaitu: kecewa kepada Tuhan karena Tuhan menimpakan masalah kepada dia karena ia tidak melakukan kesalahan, tetapi Ayub mampu bangkit kembali.

Melalui proses dan masalah ini, Tuhan mau membentuk kita untuk menjadi semakin mengenal dan bersandar kepada Dia. Demikian juga dengan Ayub, saat menghadapi masalah, ia sangup berkata: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Ayub 42:5

Hanya dari kata orang ( kata pendeta, saudara seiman, orang tua ), ia dapat mampu menjadi orang yang saleh di dunia.
Tetapi saat ia berjumpa dengan Allah secara pribadi melalui membaca Alkitab dan berdoa, ia menjadi lebih saleh dan lebih takut kepada Tuhan. Tuhan ingin kita sama seperti Ayub yang selalu ada kerinduan untuk berjumpa dengan Dia. Lalu Tuhan memulihkan ekonomi dia 2x lipat dan Tuhan memberikan anak 10 lagi ( 7 pria, 3 wanita ).

Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur. Ayub 42:17
Ayub saat meninggal, selain meninggalkan harta, ia meninggalkan suatu kebanggaan dalam diri anak-anaknya, juga dalam diri Allah sebagai orang yang paling saleh di seluruh dunia.
Bagaimana dengan diri kita? Apakah kehidupan kita menjadi suatu kebanggaan terhadap anak kita, orang tua kita, atau saudara kita, dan Tuhan kita.
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar