Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Minggu, 22 Juni 2014

PEROMPAK HARTA ATAU NYAWA

Perampok atau perompak adalah orang yang melakukan kejahatan bernama perampokan. Perampokan adalah jenis kejahatan yang termasuk dalam pencurian yang paling berat, yang dalam KUHP disebut sebagai pencurian dengan kekerasan. Karenanya, ancaman hukumannya juga paling tinggi di antara jenis pencurian lainnya, seperti pencurian biasa, dan pencurian dengan pemberatan.

Perampokan sering kali diikuti pula oleh kejahatan lain, sehingga terjadi apa yang disebut dalam hukum pidana sebagai somenloop (concursus). Dilihat dari pelakunya, perampokan juga melibatkan banyak orang atau dilakukan oleh lebih dari satu orang pelaku. Dilihat dari rumpunnya, korupsi juga berinduk pada kejahatan pencurian. Dengan kata lain, korupsi adalah bentuk mutakhir dari pencurian.

Dalam hal ini, perampokan bila dibandingkan dengan pencurian adalah sama-sama merupakan perkembangan dari pencurian, dan juga dilakukan secara bersama-sama. Dengan demikian, samakah koruptor dengan perampok? Jika dilihat dari sisi gramatikal, maka perampok dan koruptor memiliki persamaan tetapi sekaligus juga memiliki perbedaan. Persamaannya adalah sama-sama melakukan pencurian, yang keduanya dapat dihukum menurut sistem hukum pidana. Persamaan penting yang lain adalah dari sisi moral, yang mana kedua jenis kejahatan ini memiliki tingkat ketercelaan yang tinggi. Ketercelaan itu disebabkan karena harta yang dicuri oleh perampok dan koruptor biasanya dalam jumlah besar. Bukan karena kemiskinan, seperti yang terjadi dalam pencurian dasar. Para perampok biasanya membentuk organisasi kejahatan, dan karena hasil kejahatannya, mereka justru menjadi kaya raya.

Benarkah nilai harta itu sebanding dengan nyawa kita? Nilai nyawa dan harta itu sama maka itu keluar kalimat ‘harta’ ‘atau’ ‘nyawa’. Harta atau nyawa ini sering dilontarkan oleh seorang perampok bukan dilontarkan seorang pencuri atau penjambret. Seorang perampok bila ingin merampok, dia akan mengincar dahulu siapa yang ingin dirampok. Dia ingin tahu orang yang hendak dirampok ini layakah untuk dirampok, dia akan mengatur waktu dan kondisi yang tepat untuk merampok. Sekali dia merampok dia akan mendapat harta atau nyawa atau kedua duanya.

Perampok memiliki sasaran saat merampok yaitu harta mungkin nyawa atau kedua duanya. Maka muncul kalimat ‘harta’ ‘atau’ ‘nyawa’. Kalau orang itu memilih ‘atau’ maka harta dan nyawanya diambil, bila memilih harta maka nyawanya diambil, demikian juga bila memilih nyawa maka hartanya akan diambil. Kadang saat kita dirampok kita tidak bisa memilih karena perampok itu sudah dibayar atau sudah mengambil keputusan untuk merampok nyawa atau harta kita atau kedua duanya.
Biasanya tujuan merampok bukan karena miskin atau tidak makan tapi ingin menjadi kaya raya.

Penjambret atau pencuri berbeda bila dia ingin mencuri dia tidak perlu cari tahu terlalu lama orang itu kaya atau miskin, membawa uang banyak atau tidak. Itu sering dijumpai banyak penjambret atau pencuri yang menjambret dan mencuri tas atau dompet tidak ada isinya atau mungkin uang yang didapat sedikit.

Perampok yang disertai dengan tindak kekerasan sering kita jumpai bahkan di Alkitab diceritakan seorang (bukan orang Samaria) dirampok habis habisan bahkan tubuh orang itu saja tidak bisa dipertahankan hingga harus dibawa keruang UGD lalu keruang ICU.

Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Lukas 10:30-33

Kalau kita lihat ceritanya, ada seorang yang benar benar butuh pertolongan dengan segera karena dia sudah luka parah yang harus segera dirawat, bila terlambat dia akan mati.
Perampok ini dalam ceritanya dia begitu kejam sudah mengambil harta masih juga memukul hingga orang itu luka parah bahkan untuk mengerakkan tubuhnya saja dia tidak sanggup dan nyawa sudah diujung tanduk.

Hari itu yang lewat banyak orang, ada orang lewi, ada orang imam dan seorang Samaria dan kemungkinan jalan ini jalan besar yang sering dilalui banyak orang.

Dari cerita tidak ada seorangpun yang tergerak mengeluarkan tenaga dan uangnya untuk menolong orang itu selain seorang Samaria. Sering kita juga sama, banyak kita temui ada orang yang kecelakaan atau dirampok yang kita kerjakan lari atau meninggalkan tempat itu secepat cepatnya karena takut kita nanti ikut dirampok atau terlibat dalam permasalahan. Kalaupun ada yang menolong sangat sedikit paling banyak yang ditolong malah harta yang tersisa yang dibawa orang itu.

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Lukas 10:34,35

Orang itu dirawat hingga membaik, berapa biayanya? tidak tahu. Berapa lama dia sakit? 1 harikah? tidak tahu. Di alkitab ditulis ‘keesokkan harinya’ atau besoknya (bukan ditulis 1 hari sesudahnya) setelah dia merawat dan bisa ditinggal. Dia pergi meninggalkan 2 dinar untuk merawat khusus untuk yang sakit, uang ini bukan untuk biaya penginapan (kemungkinan biaya penginapan sudah dibayar di luar uang 2 dinar itu).

Dinar adalah mata uang perak yang bergambar kaisar Romawi (Markus 12:15,16). Mata uang ini setara dengan dirham Yunani, sebagaimana dikenal di Timur, 1 dinar senilai dengan harga seekor domba, kalau 2 dinar berarti seharga 2 ekor domba + 3-6 juta rupiah.

Coba kita bayangkan orang Samaria itu tidak kenal dengan orang Yahudi ini, sedang orang yang disebut bangsa Yahudi atau sebangsanya tidak mau menolong, mereka meninggalkan orang itu dalam keadaan sekarat.

Ini adalah gambaran kehidupan manusia, manusia cenderung untuk diri sendiri, untuk keluargaku. Untuk gereja? untuk negara? Untuk orang benar benar butuh pertolongan? Mana ada yang mau tahu. Diluar mereka, mereka tidak mau tahu, mau berdoa untuk mereka? Omong kosong.

Hanya segelitir orang saja yang mau tangannya terulur untuk orang orang yang demikian itupun kadang mereka hanya memberi ala kadarnya dan ada maunya.

Perampokan? Pernahkan kita mengalaminya? Atau kita sendiri juga termasuk perampoknya, perampok yang berdasi?

Kita merampok suami atau istri orang lain, harga diri orang lain, kebebasan orang lain, sukacita, bisnis orang lain, harta orang lain, menghancurkan masa depan seseorang, pelayanan, mencemarkan nama baik dll. Kalau kita tahu dan telah melakukannya maukah kita bertobat. Kalau kita lihat gereja ada Protestan, Pantekosta dan Karismatik bisakah kita bersatu? Gereja dan gereja saling gontok gontokan, padahal mereka sering medengung dengungkan kata kasih, anehkan?
Merampok jemaat dari gereja satu kegereja satunya dengan iming iming beras, uang, makanan dsb. Kenapa harus demikian apa gereja sudah tidak laku, tidak ada mujizat lagi sampai melakukan hal yang demikian itu.

Orang Samaria ini sungguh berbeda, dia menolong tanpa minta imbalan. Saat dia merawat orang Yahudi ini pasti dia mengeluarkan lebih dari 2 dinar sampai membaik, baru setelah itu dia tinggalkan. Lalu dia menitipkan uang kepada kepala penginapan 2 dinar, bahkan kalau kurang ia akan menambahinya setelah dia datang ketempat itu lagi.

Kembali lagi? Siapa yang percaya orang Samaria itu kembali lagi dan membayar uang kekurangannya? Kemungkinan orang Samaria itu setiapkali kesana pasti menginap tempat itu sehingga pemilik penginapan percaya pada orang itu.

Kalau hari ini kita mengalami dirampok habis habisan bahkan nyawa kita sudah terjual pada Iblis kita sudah diikat oleh dosa begitu lama. Walau kita sudah kenal Yesus sudah bertahun tahun kita tidak mampu merdeka bahkan sering jatuh bangun, mungkin sudah bertobat tapi buktinya sering jatuh bangun, mengapa bisa demkian? Karena kita belum benar benar merdeka.

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.
Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." Yohanes 8:34-36 
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar