Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Sabtu, 28 Januari 2012

SANG PEMBAWA PEDANG


Matius 10:34-39
Perkataan Yesus ini sangat mengejutkan! Apakah Yesus cinta damai? Tetapi, mengapa Ia justru membawa pedang? Bukankah Yesus dalam kehidupannya menolak cara-cara kekerasan, dan bahkan mengajar para murid untuk mendoakan para musuh dan orang-orang yang menganiaya? Di bagian per tama (ay. 34-36), Yesus berbicara mengenai konflik (“pedang”) sebagai akibat misi yang dibawa-Nya. Bagian kedua (ay. 37-39), Yesus melanjutkan khotbah seterusnya tentang mengikut Dia.

Damai yang sejati bukan yang Palsu
Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Matius 10:34
Bagian ini menyentak para pengikut Yesus. Mungkin mereka sudah mulai terbius dengan citra Yesus yang lemah lembut—Yesus yang mengajarkan cinta-kasih, yang menyembuhkan banyak orang, yang menunjukkan welas asih dan bela-rasa bagi mereka yang tertindas dan tersingkirkan. Di sini, nada manis dan terang dalam mengikut Yesus itu segera dibuat sungsang. Ucapan Yesus di bagian ini sangat sulit untuk dimengerti.

Yesus mengungkapkan misi kedatangan-Nya. Kalimat ini memang sengaja untuk mengagetkan para murid! Kedatangan Sang Mesias seperti yang dijanjikan oleh PL memang untuk membawa damai
Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi. Zakharia. 9:10

Inilah ciri pemerintahan Allah di akhir zaman
Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Yesaya 11:6-9

Mengupayakan perdamaian memang harus menjadi bagian hidup para pengikut Mesias, sebagaimana Mesias sendiri katakan. Namun, cara untuk mengadakan damai itu pada dirinya sendiri justru tidak mendatangkan damai. Mewujudkan damai sering menimbulkan konflik dan perpecahan. Di sepanjang hidup-Nya, Yesus membawa damai dan mengajarkan damai, tetapi di mana Dia ada, di situ selalu terjadi pertentangan (pedang).

Para pengikutnya tidak mungkin dapat mengharapkan sesuatu yang lebih indah daripada yang dialami sang Guru. Untuk mengupayakan damai itu datang dan hadir di muka bumi, mereka harus mengambil langkah untuk mengikuti jejak kehidupan Sang Guru. Itu berarti mereka berbagi kiprah hidup-Nya. Konsekuensinya, mereka pun berani menghadapi pertentanga n.

Maka, kata “pedang” di sini tentu bukan berarti harfiah. Yesus sendiri melarang murid-Nya menggunakan pedang! Pedang adalah metafora pertentangan dan penderitaan.
Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.
Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Matius 26:51,52

Yesus memang datang untuk membawa damai. Tetapi bukan damai yang semu, damai tanpa perjuangan. Damai yang diajarkan oleh Yesus adalah keberanian untuk menghadapi pertentangan dari dunia yang jahat di sekitar kehidupan para murid. Dengan begitu, Yesus sedang menentang aspirasi yang salah di antara para pendengar dan pengagum-Nya, yang mengharapkan bahwa kedatangan Mesias berarti kegerakan revolusioner untuk mengangkat senjata dan berperang.
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Kisah para rasul 1:6
Mesias Yesus memiliki cara yang berbeda. Damai sejahtera terwujud dengan jalan derita dan bukan pedang, kasih dan bukan permusuhan, lemah-lembut dan bukan kepongahan.

Keluarga yang Semu dan Keluarga yang Sejati
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Matius 10:35,36
Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
Mikha 7:6
Yesus melanjutkan pengajaran mengenai pertentangan yang dibawanya. Jika di Mikha, pertentangan di situ diakibatkan karena tidak adanya orang benar di Israel, sehingga terjadi perpecahan di dalam keluarga. Di Matius sebaliknya, justru munculnya orang benar—yaitu orang-orang yang mau mengikut sang Mesias—konsekuensi yang tidak menyenangkan akan diterima oleh mereka yang mengikuti-Nya, dan hal ini malahan datang dari orang-orang yang paling dekat.

Ayah adalah simbol loyalitas tertinggi di dalam keluarga. Semua anggota keluarga harus memberikan rasa hormat dan kepatuhan. Ibu adalah orang yang penting dalam rumah tangga, karena ia mendampingi ayah dalam memimpin keluarga. Pertentangan antar kaum perempuan di dalam rumah merupakan sebuah aib. Menantu perempuan adalah seorang anggota baru di dalam keluarga karena pernikahan dengan anak laki-laki, dan ia harus mendapatkan bimbingan dan kasih dari ibu mertua. Yesus menyimpulkan bahwa “musuh” seseorang adalah isi rumahnya!

Sekali lagi, ajaran Yesus ini bukan merupakan keutamaan di dalam dirinya sendiri, juga bukan pengalaman universal yang Yesus mau tanamkan di dalam diri para murid. Tetapi adalah masalah prioritas! Loyalitas kepada Yesus dan misinya datang pertama-tama, dan konsekuensinya (dapat) diterima oleh para murid, yaitu pertalian persaudaraan dan keluarga dapat terkoyak. Mereka tidak usah mencari-cari pertentangan ini; pertentangan ini datang dengan sendirinya.
Yesus menegaskan, mengikut jalan yang benar bisa jadi merupakan urusan yang membuat seseorang kesepian. Mengikut Kristus adalah keputusan pribadi. Pertentangan dan pemisahan bisa terjadi tanpa dapat diprediksi. Namun di pihak lain, di mana keluarga lama terkoyak, ada keluarga baru yang terjalin, yaitu keluarga murid-murid Yesus yang menunjukkan kasih bukan sekadar menggantikan jalinan yang terkoyak tadi, tetapi keluarga yang dijiwai oleh loyalitas kepada-Nya (12:46-50; 19:27-29).

Kasih yang Sementara dan Kasih yang Kekal
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Matius 10:37-39

Adalah perkataan yang sulit karena di sini Yesus memakai kata kerja aktif, “mengasihi.” Apakah Yesus melarang para murid untuk mengasihi keluarganya? Kata-kata Yesus lebih tajam di sini. Yesus bukan melarang mengasihi keluarga. Di sini Yesus membuat asumsi bahwa anggota-anggota keluarga akan saling mengasihi. Tetapi titik perhatian Yesus adalah janganlah mereka terlampau terikat dengan keluarga, sehingga kepatuhan kepada-Nya menjadi terpinggirkan
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Matius. 6:33
Siapa yang para murid jadikan prioritas dalam hidup mereka? Jika prioritas itu salah diambil, Yesus katakan, “ia tidak layak bagi-Ku.”

Yesus kemudian mengarahkan kepada kasih yang lain. Yaitu “memikul salib” dan mengikut Aku. Kristus menempatkan komitmen kepada salib di muka. Seseorang yang memikul salib, tiada lagi pilihan untuk mundur. Seseorang yang memikul salib, tidak lagi punya pilihan untuk diri sendiri yang sama nilainya dengan komitmen terhadap salib. Seseorang yang memikul salib tidak tahu apa-apa lagi kecuali mati untuk diri sendiri. Seseorang yang memikul salib adalah ia yang mengikut di belakang Yesus, yang juga hingga akhir kehidupan-Nya tekun memikul salib.

Maka, di akhir bagian ini, Yesus memberi penekanan dengan janji yang diungkapkan dalam bentuk paradoks. Mengikut Yesus bukan sekadar urusan hidup saat ini. Ada kehidupan di balik kematian. Kehidupan yang sejati, baik pada masa kini dan masa yang akan datang, diberikan kepada mereka yang berani kehilangan hidupnya “karena Aku.” Yesus telah memperingatkan agar para murid tidak “takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa”
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Matius 10:28
Tetapi, apakah syarat untuk mendapatkan hidup yang sejati itu dengan berani mati? Jika benar demikian, maka Yesus tidak sedang mengajarkan penyangkalan diri. Sebab, seseorang masih punya pamrih—berani mati bagi Yesus asalkan mendapatkan hidup yang kekal. Yesus, sebaliknya, mengajar para murid untuk memfokuskan diri pada kepasrahan total dan dedikasi seutuhnya kepada Allah. Seseorang harus menghancurkan keangkuhan “keakuan,” dan memakai segenap energi; dan kehilangan “keakuan” hingga titik nadirnya berarti menemukan diri yang sejati, hidup yang kekal.
Oleh: Ev Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar