Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Kamis, 12 Januari 2012

GARAM DUNIA 1


"Kamu adalah garam dunia, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia asinkan? Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang" Matius 5:13 Kalimat awal menunjukkan bahwa kita - KAMU - adalah garam dunia. Dan kalimat selanjutnya merupakan satu peringatan yang serius bahwa jika garam menjadi tawar, menjadi tidak berasa, tidak ada gunanya lagi kecuali dibuang! Para ilmuwan mengatakan bahwa garam yang berasal dari jurang-jurang garam yang berdekatan dengan Laut Mati sangat tidak murni. Ketika berada didalam keadaan-keadaan tertentu seperti embunan, sehingga garam itu dilumerkan dari senyawa, maka apa yang tersisa sebenarnya adalah campuran kapur dan elemen lain yang sesungguhnya bukan garam itu sendiri. Tampaknya seperti garam, tetapi sudah kehilangan rasa asinnya. Artinya orang Kristen dapat kehilangan kualitas yang esensial sebagai orang Kristen.

Allah memberikan kualitas-kualitas rohani, tetapi kita dapat kehilangan kualitas- kualitas itu
Miskin dihadapan Allah, berdukacita atas dosa, lemah lembut dalam hubungan dengan Allah dan manusia, haus dan lapar akan kebenaran bukanlah sifat asli manusia. Kualitas-kualitas tersebut diberikan Bapa pada kita. Dengan kuasa-Nya, Allah mengubah dan membentuk kita menjadi seperti demikian.

Saat kita diubah dan dibentuk, sifat sifat Bapa akan ada dalam kehidupan kita. Kualitas-kualitas ini akan mudah hilang dari dalam diri kita, bila kita menjauhi yang memberi ‘kualitas’ itu

Kita semua tahu, sangat mudah bagi kita untuk menjadi sombong, berbangga diri, percaya terhadap kemampuan diri kita sendiri, mencukupkan diri sendiri daripada menjadi miskin dihadapan Allah. Inilah sifat alami manusia, percaya dan bangga terhadap diri sendiri. Bagaimanapun juga banyak orang pergi ke psikolog untuk mengatasi perasaan rendah diri dan memperoleh kepercayaan serta kebanggaan terhadap diri sendiri. Sulit bagi manusia untuk tetap miskin dihadapan Allah, manusia mudah menjadi sombong, bangga terhadap dirinya sendiri. Sulit bagi manusia berdukacita atas dosa, mereka lebih mudah jatuh dalam dosa, bahkan mereka suka berbuat dosa dan menikmati dosa.

Karena itu sangat mudah bagi seorang murid untuk kehilangan kualitas-kualitas itu jika ia tidak berjaga-berjaga. Kita harus berdoa dan berjaga-jaga, seperti yang Yesus ajarkan, agar kita tidak jatuh dalam pencobaan. Karena itu kita mendapati kualitas-kualitas rohani yang digambarkan disini dengan garam bisa hilang. Jika garam tidak dapat menjadi tawar, tidak ada gunanya Tuhan memperingatkan kita supaya jangan kita kehilangan kualitas sebagai seorang murid. Agar kita tidak menyesal nantinya.

Garam yang tawar - secara lahiriah menjalankan ibadah tapi telah memungkiri kekuatannya!
Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Lukas 14:34-35

Lukas ingin menyatakan betapa pentingnya perkataan Tuhan Yesus ini. Kemudian ia menyimpulkan dengan perkataan yang penting ini, yang sering mengikuti suatu ucapan yang penting: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar." "Perhatikanlah," Tuhan Yesus berkata, "apa yang Kukatakan padamu; janganlah kamu kehilangan rasa asin itu, karena garam yang menjadi tawar tidak dapat diasinkan kembali. Dengan apakah ia diasinkan? Sekali tawar tetap tawar, tidak dapat diasinkan lagi".

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Ibrani 6:4-6
Bagaimana anda dapat mengasinkan garam yang sudah tawar? Tidak ada lagi yang dapat dilakukan dengan garam yang tawar. Apa yang dapat kita lakukan? Tidak ada sama sekali! Tidak ada gunanya lagi, tidak berguna untuk tanah, dan tidak dapat dipergunakan sebagai pupuk. Tidak ada artinya jika ditimbun atas kotoran. Anda tidak dapat melakukan apapun. Apa yang dapat anda lakukan? Anda akan membuangnya ke jalan dan orang akan menginjaknya, mungkin hanya dapat mencegah agar anda tidak tergelincir di jalan. Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan selain dibuang dan diinjak orang.
Garam sebagai simbol kuasa Allah untuk memurnikan
Berkatalah penduduk kota itu kepada Elisa: “Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi."
Jawabnya: "Ambillah sebuah pinggan baru bagiku dan taruhlah garam ke dalamnya." Maka mereka membawa pinggan itu kepadanya.
Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: "Beginilah firman Tuhan: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi.
Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa. II Raja-raja 2:19-22
Maksud dari tindakan ini terletak pada ‘simbolisme garam’. Bukan garam itu yang memurnikan, tetapi kuasa Allah. Perhatikan bahwa garam itu berfungsi hanya karena perkataan Elisa: "Beginilah firman Tuhan" dan air itu menjadi sehat "sesuai dengan Firman yang disampaikan Elisa!" Otoritas kuasa Allah bekerja melalui Elisa. Garam disini melambangkan kemurnian atau kekudusan dan kuasa kekudusan yang memurnikan.
Garam tidak mempunyai khasiat ajaib. Kita tidak tahu pasti seberapa banyak garam yang dituangkan ke sumur. Pada kenyataannya hanya semangkuk kecil, hanya sedikit garam yang dituang ke dalam sumur. Namun ia melambangkan kuasa Allah yang memurnikan. Itu hanya berarti jika kita mengerti makna rohani yang terkandung didalamnya. Dengan cara yang sama, untuk memahami Matius 5:13, kita harus menyadari bahwa orang Kristen adalah garam dunia, bukan karena sesuatu dalam diri kita, bukan karena karisma khusus atau daya tarik yang kita miliki, tetapi karena kuasa Allah yang bekerja dalam kita maka dapat mengubah dunia.

Allah bekerja melalui orang-orang Kristen dan membuat mereka menjadi garam. Bukan kita sendiri adalah garam, tetapi Allah, kuasa-Nya, kualitas Allah yang terdapat didalam kita yang menjadikan kita sebagai garam. Tanpa Allah didalam kita, kita tidak berarti apa-apa, kita sama sekali tidak berarti. Itulah kenyataannya.

Garam menyucikan dari kecemaran dan kejahatan
"Sehari-harian Abimelekh berperang melawan kota itu (melawan kota Sikhem yang termasyur) ia merebut kota itu dan membunuh orang-orang yang didalamnya; kemudian dirobohkannya kota itu dan ditaburinya dengan garam". Hakim-hakim 9:45
Abimelekh menaburkan garam. kita pernah mendengar orang berkata "Jika anda menaburi ladang dengan garam, tanahnya menjadi tandus " dan hal-hal seperti ini. Pernyataan seperti ini tidak berarti sama sekali. Tidak dikatakan bahwa Abimelekh menaburkan garam ke 'ladang'; tetapi keatas kota Sikhem. Kita tidak menanam sesuatu dikota. Menaburkan garam tidak akan membuat kota menjadi tandus. Maksud saya, seseorang bisa saja membangunkan sebuah rumah diatas tanah yang telah ditaburi garam itu. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanian. Apa yang dilambangkan oleh Abimelekh adalah bahwa kota itu harus dimurnikan dari segala kejahatan. Cara hidup yang lama harus ditinggalkan, sehingga menjadi kota Sikhem yang baru.
Pada kenyataannya, kita tahu dari sejarah bahwa kota Sikhem, tidak dihancurkan sehingga kota itu tidak dapat dibangun kembali. Menurut sejarah kota Sikhem bahkan tetap berdiri sampai abad pertama, sampai pada akhirnya dihancurkan oleh tentara Romawi. Kota Sikhem tetap menjadi kota penting sepanjang masa. Sikhem mengalami sejarah yang panjang. Seringkali kota ini dikepung dan diserang. Serangan Abimelekh untuk menghancurkan kota Sikhem hanyalah salah satu diantaranya. Dan tentu saja menaburkan garam keatasnya bukan berarti penghancuran kota tersebut untuk selamanya. Sama sekali tidak! Sikhem segera dibangun dan diduduki kembali. Jadi jelaslah bahwa tujuan garam itu ditaburkan hanyalah sebagai simbol.

Tentu dibutuhkan biaya yang sangat besar jika garam harus ditaburkan keseluruh kota. Menaburkan garam ke kota Sikhem hanyalah suatu simbol tindakan rohani, sebagai tanda bahwa kota Sikhem harus dimurnikan, dan kota itu harus meninggalkan cara hidupnya yang lama. Itulah yang seharusnya terjadi pada kita sebagai orang Kristen.

Kita dimurnikan dengan meninggalkan cara hidup yang lama, yaitu saat garam itu masuk dalam hidup kita dan sampai pada akhirnya kita pun menjadi garam. Ini mengingatkan kita akan adanya tahap dimana kita menerima terang dan kemudian menjadi terang.
"Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu!" Efesus 5:14
Setelah kita menerima terang Kristus, kita menjadi terang. Demikian pula saat kita menerima kuasa Allah yang memurnikan kita, yang digambarkan dengan garam, sebagai simbol dari kuasa Allah dalam Roh Kudus, kita diubahkan dan kita juga menjadi garam.

Garam melambangkan apa?
Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." Kolose 4:5-6
Paulus mengatakan "Sebagai orang Kristen hendaklah kata-katamu jangan hambar". Dalam bahasa asli, "hendaklah kata-katamu dibumbui garam." Ini berarti setiap perkataan yang dikeluarkan bisa membawa dampak yang indah dan mengklamirkan dunia yang sedang hambar.
Sekarang bagaimana dengan kita apakah hidup kita membawa dampak yang besar bagi sekeliling kita atau sebaliknya, kita yang mengikuti arus dari dunia.
jadi bersiaplah terbuang atau menjadi terang
Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Lukas 14:34-35
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar