Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Jumat, 16 Juli 2010

KESUKSESAN


Kesuksesan atau keberhasilan adalah dambaan setiap orang, baik tua hingga yang muda.
Bicara kesuksesan pasti tidak lepas dari kata gagal, seperti pepatah mengatakan “Kegagalan merupakan cambuk untuk memperoleh Kesuksesan”. Kegagalan pasti setiap kita mengalaminya, cuma sekarang saat kegagalan itu ada bagaimana menyikapinya.

Ada orang gagal dalam studinya, hingga ia melihat masa depannya sudah suram. Ada orang yang dipecat sedang ia masih mempunyai tanggungan anak dan istrinya hingga dunia seakan-akan mau pecah. Ada penyakit yang kronis sedang menyerang hingga ia menganggap masa depannya sudah berakhir, jadi hidupnya dijalani dengan keputusasaan. Ada juga kegagalan dalam pernikahan, kegagalan dalam berbisnis, kegagalan dalam mendidik anak, kegagalan dalam mengatur pekerjaannya, kegagalan melakukan kebaikan, kegagalan mengerem mulut, kegagalan untuk mencari identitas (krisis identitas), dsb.


Firman Tuhan mengatakan
Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Amsal 24:16
Untuk mencapai kesuksesan pasti akan diiringi suatu kegagalan, jadi kita tak perlu kecewa saat gagal tapi harus bangkit untuk menjadi berhasil.

Kegagalan pasti dialami oleh setiap orang, cuman kalau kita gagal terus menerus dalam hal yang sama itu namanya tolol bukan namanya kegagalan lagi.
Contoh: kalau kita menggoreng tempe lalu gosong, kemudian suatu kali kita lakukan yang sama lagi secara berulang-ulang, itu namanya tolol. Karena itu suatu pekerjaan yang biasa dapat dilakukan kebanyakan orang, jadi pekerjaan yang ringan saja tidak bisa kita lakukan apalagi masalah yang lebih berat lagi.
Tolol lain dengan namanya kegagalan. Yang dinamakan tolol yaitu melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, dengan kata lain kita masuk lubang yang sama setiap lewat jalan yang sama. Biasanya disertai dengan ngeyelan (SUKA MEMBANTAH/BEBAL) baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan (diajarkan sesuatu selalu melakukan perbuatan yang lain (kebalikan) atau tetap mengerjakan selalu hal-hal yang sama walau tahu itu sudah salah)
Contoh kesalahan dalam menggoreng tempe sekarang tidak melakukan kesalahan dalam menggoreng tempe, tapi melakukan kesalahan dalam menggoreng tahu. Harusnya tau bahwa tempe maupun tahu cara penggorengannya sama.

Yang dinamakan kegagalan yaitu melakukan kesalahan dan mau memperbaikinya. Jadi suatu kali ia melakukan kesalahan, tak mungkin dari masalah yang lalu-lalu, tapi dari masalah yang baru.
Jadi mengapa kita tidak bisa sukses? Karena kita hidup dari ketololan bukan dari kegagalan. Mengapa Israel tidak bisa masuk Kanaan hanya keturunan berikutnya? Karena Bebal.

Dalam masyarakat baik itu pekerjaan, pelayanan, maupun pendidikan kita akan menemui 3 macam orang:
1. Orang yang pintar/jenius
Orang yang daya tangkapnya cepat, jadi kalau diajarkan sesuatu cepat mengerti.
2. Orang yang bodoh/kurang pintar
Orang yang diajarkan segala sesuatunya menangkapnya lambat, tapi ia selalu berusaha walaupun hasilnya lama. Jadi waktu belajar perlu waktu yang lama.
3. Orang yang tolol (O'on)
Orang yang tidak bisa diajar dan diatur walaupun kelihatannya ‘ya’ tapi tetap melangkah dengan langkah yang lain (nyeleneh).

Hambatan menjadi orang sukses
1. Menjadikan diri kita robot.
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 1:26

Sering kita punya konsep ‘aku bisa cuma ini, aku ahli kalau dibidang ini, jadi kalau yang lain lebih baik aku tidak kerjakan, takut gagal’ (jadi robot).

Dalam pelayanan juga kita bisa lihat, karena terbiasa cuek jadi selama bertahun-tahun di gereja tidak ada yang dikenal. Atau sudah mematok tempat (dipinggir tembok, duduk dibelakang). Datang harus terlambat, datang selalu bersama teman kalau tidak ada teman tidak datang. Nyanyi cuma mulut saja yang goyang tanpa mengeluarkan suara. Tiap kegereja tidur, sukanya cemberut. Kalau biasa disini ya harus tetap disini sampai Tuhan Yesus datang memanggil.

2. Tidak punya inisiatif
Kita menjalani hidup hanya rutinitas, ke gereja ya ke gereja tanpa ada pikiran untuk melakukan sesuatu bagi pekerjaan Tuhan. Itu urusan pekerja, itu urusan petugasnya. Jadi kalau bukan tugasku, aku tak perlu bergerak (contoh bersalaman, menyapa, menyanyi yang keras urusan pemimpin pujian, melompat dan menari, dsb). Dengan kata lain ia tidak bisa mencipta suatu suasana yang lain.
Contoh: kalau keluar dari pekerjaan harus bekerja pada bidang yang sama ditempat lain. Tanpa bisa punya inisiatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Kalau lulus sekolah harus bekerja sesuai dengan sekolahnya (elektro bekerjanya di elektronik, ekonomi harus bagian ekonomi)

3. Tidak ada Yesus dalam langkah kita
Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.
Mazmur 127:1,2

Prinsip Allah: Allah sanggup mengubah sampah menjadi berkat, atau berkat itu menjadi sampah. Itu tergantung apakah kita sanggup mengembangkannya.

4. Tidak ada percaya diri
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Pengkotbah 3:11
Orang itu takut mengalami kegagalan, jadi setiap mau melangkah selalu tertunda dan akhirnya tidak jadi dalam melangkah. Kalaupun sudah melangkah ia akan stress berat bila langkahnya tidak menghasilkan sesuai dengan yang diinginkannya. Jadi ia cari yang aman-aman saja dengan seminim mungkin tantangan yang harus ia lewati.
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar