Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Selasa, 16 Oktober 2012

HIMAT YANG DARI ATAS

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Lukas 2:52 
Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya. Amsal 8:11 
Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku" dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu, Amsal 7:4 
Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. Yakobus 3:13-18

Salomo mengatakan hikmat lebih berharga daripada permata. Juga menganggap hikmat adalah saudara. Kita harus memilih hikmat yang dari Tuhan. Biarlah kita menjadi orang yang bijak dan berakal budi. Hikmat menjadikan kita pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Matius 5:9 
Bila dimana ada perselisihan ada kekacauan disana. Perlu pendamai untuk menyelesaikan masalah. Jika dalam hati ada kepahitan, pasti juga ada iri hati terhadap sesama manusia.
Sifat manusia dalam hidupnya cenderung mementingkan dirinya dan segala macam perbuatan jahat yang timbul dari hawa nafsu manusia. Jadi manusia itu tidak mudah. Hidup itu sangat susah. Oleh karena itu kita perlu melatih diri menjadi dewasa.
Contoh orang yang tidak berhikmat: kalau ada pertengkaran masih terus bicara negatif sehingga suasana lebih kacau. Kita adalah garam dan terang dunia. Oleh karena itu marilah kita berperilaku layaknya garam dan terang dunia. Biarlah melalui ke’asin’an dan ‘terang’ yang kita hasilkan nama Bapa kita di surga lebih dipermuliakan.
Oleh: Ibu Namara

FIRMAN TUHAN TIDAK BERUBAH

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Matius 24:35 

Perkataan Tuhan Yesus tidak pernah berubah. Dari zaman ke zaman perkataanNya tetap, bahkan meskipun diucapkan 2000 tahun yang lalu, namun keadaan yang terjadi masih bisa diaplikasikan sekarang. Dalam Firman Tuhan ada didikan, ada janji. 
Firman itu adalah kebenaran dan bila kita percaya kepadaNya, Firman itu juga adalah keselamatan. Bagi yang percaya Firman Tuhan selain ada keselamatan dan hidup yang kekal, terdapat janji-janji mengenai berkat yang berlimpah di kehidupan kita dan keturunan kita.

Dapatkah saudara membayangkan kalau perkataan Firman Tuhan dapat berubah bila zaman berubah? Maka kita tidak bisa percaya kepada Firman Tuhan bila kita hidup di zaman yang berbeda. Tetapi, karena Firman Tuhan tidak berubah, maka kita bisa percaya kepada FirmanNya tidak peduli kita hidup di zaman sekarang (dan FirmanNya diucapkan 2000 tahun lalu).
Dan kita bisa percaya kepadaNya tidak peduli kita hidup di daerah mana. Kita seharusnya bersyukur karena itu. Dan mulai sekarang lebih meningkatkan iman kita kepadaNya.
Oleh: Bpk. Undik

MENGAPA BIMBANG?

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Matius 14:27-31 

 Mengapa tidak boleh bimbang? 

Orang yang bimbang, tidak akan mendapat apa-apa 
Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Yakobus 1:6,7

Orang yang bimbang akan dihukum
Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. Roma 14:23 

Kita harus percaya dan tidak bimbang
Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Matius 21:21 

Tidak bimbang tetapi percaya
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Markus 11:23 

Orang yang bimbang, adalah orang yang kurang percaya
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Matius 14:31 
1. Jangan bimbang tentang ketenangan
Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Matius 8:26 
2. Jangan bimbang tentang kemuliaan/kehormatan
Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Matius 6:30 
3. Jangan bimbang tentang persoalan yang dihadapi
Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, —maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. Matius 17:20 
4. Jangan bimbang tentang keperluan jasmani
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." Matius 16:8 

SEBAB ITU Jangan kuatir hari esok
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Matius 6:34 Jangan kuatir tentang apapun Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Filipi 4:6
Oleh: Pdt. Robby Schramm-Mojoagung

MALAIKAT JEMAAT DI SARDIS

Ibu-kota kuno Lidia. Terkenal karena industri bulu dombanya. Pada tahun 546 SM, Sardis dikalahkan oleh Koresy dan menjadi tempat kediaman seorang wakil penguasanya. Tahun 17 SM rusak karena suatu gempa bumi dan dibangun kembali oleh Tiberius. 
Ibu kota dari Lidia di provinsi Asia dari kerajaan Roma. Gereja di Sardis adalah salah satu Gereja yang disapa dalam Kitab Wahyu dan ditegur sebagai Gereja sekarat, di mana hanya ada suatu inti kecil orang setia, tidak cukup untuk memperkecil pengaruh dari peribadahan kerajaan yang mempunyai pusatnya di Sardis.

Kota Sardis terletak di pinggir sungai Pactolus yang berlimpah dengan tambang emas. Pada zaman Croesus memerintah sebagai Raja Sardis, kota ini mencapai puncak kejayaanya dan termahsyur sebagai kota yang sangat kaya raya. Namun ketika surat ini ditulis kejayaan itu telah hilang, hanya tinggal sisa-sisanya. Begitulah yang terjadi pada Sardis. Kelengahan dan kepercayaan diri yang terlalu besar membuat Sardis jatuh ke tangan Cyrus, Raja Persia.

Padahal ketika Cyrus pertama kali menyerang Sardis, dengan mudah tentara Sardis mengusirnya. Letak Sardis di atas bukit karang benar-benar sebuah keuntungan. Tidak mudah bagi tentara musuh untuk masuk ke daerahnya. Namun Cyrus tidak mau menyerah, ia percaya pasti ada jalan untuk mengalahkan kota tersebut. Dan benar, akhirnya Cyrus berhasil mengalahkan Sardis. Ia menemukan cara untuk masuk ke dalam kota Sardis tanpa diketahui tentara Sardis.

Sebuah cara yang sebenarnya ditemukan secara tidak sengaja. Suatu kali ketika salah seorang serdadu Cyrus sedang beristirahat, tiba-tiba topi bajanya jatuh dan menggelinding ke bawah bukit. Serdadu itu lalu turun mengikuti arah jatuh topinya. Ketika tiba di tempat di mana topinya tergeletak, ia melihat sebuah celah yang ternyata menuju kota Sardis.

Melalui celah itulah tentara Cyrus menyelinap masuk kota Sardis tanpa diketahui. Rupanya orang Sardis sendiri tidak tahu tentang celah ini, sehingga sama sekali tidak terjaga. Cyrus pun akhirnya dapat menghancurkan Sardis.

Setelah berhasil menundukkan Sardis, Cyrus membuat peraturan: semua warga Sardis tidak boleh punya senjata, tidak boleh berlatih militer. Mereka hanya boleh diajar menari dan menyanyi. Bisa dibayangkan sebuah negara yang orang-orangnya hanya bisa bernyanyi dan menari tanpa kemampuan militer untuk mempertahankan diri. Perlahan-lahan menjadi semakin lemah. Begitulah yang terjadi dengan Sardis. Di tengah situasi dan kondisi kota yang demikianlah Jemaat Sardis berada; penduduk kota yang ramah, senang bernyanyi, dan menari.

Pendek kata, kehidupan Jemaat Sardis jauh dari penderitaan. Mereka tidak pernah mendapatkan tekanan atau sikap permusuhan dari penduduk. Tetapi justru karena berada dalam situasi demikian, serba aman dan nyaman, Jemaat Sardis menjadi ketularan , menjadi lengah dan santai Hidup dalam situasi nyaman dan mapan tidak berarti bebas dari bahaya; tidak jarang bahaya lain yang lebih besar mengancam.

Sama ketika kita merasa tidak ada apa-apa, kerap justru pada saat itulah ada apa-apa yang lebih berbahaya. Begitu juga sebagai jemaat, berada di tempat yang aman, tanpa ganguan, tidak menjamin bahwa jemaat itu akan hidup benar dan sehat. Malah bisa-bisa seperti jemaat Sardis; menjadi satu-satunya jemaat yang dalam penilaian Tuhan tidak ada segi positifnya.

 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu “Aku tahu segala pekerjaanmu! Engkau dikatakan hidup padahal engkau mati!” demikian Tuhan berkata tentang jemaat Sardis Wahyu 3:1 

Tujuh melambangkan angka yang sempurna atau angka Allah. Ketujuh Roh berarti Dia memiliki kuasa penuh atas semua roh yang ada, baik dibumi maupun disurga dan tujuh bintang melambangkan tujuh jemaat Allah. Ayat ini ditujukan kepada salah satu jemaat atau gereja, yakni jemaat di Sardis. Dan yang berbicara dalam kepada jemaat di Sardis ini adalah TUHAN sendiri, terlihat dalam kata, "Inilah Firman DIA".

"Malaikat jemaat" berbicara tentang jemaat itu sendiri. Berarti TUHAN menghargai kita begitu rupa sehingga Ia menyebut kita sebagai malaikat. Malaikat adalah pelayan Tuhan. Sebagai pelayan TUHAN, jika pola hidup kita tidak semestinya, hal itu akan mempermalukan nama-NYA. TUHAN mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan, yakni sesuatu yang baik maupun yang tidak baik.
Dari fakta ini, yang harus kita camkan adalah janganlah menjadi jemaat (orang Kristen) yang munafik. Jangan kita beribadah hanya untuk mencari muka di hadapan orang lain.
Misalnya: seseorang rajin ke gereja karena pacarnya adalah seorang Kristen dsb. Secara manusia, mungkin kita mampu mengelabui orang lain dengan sikap kita yang munafik itu, tetapi kita tidak akan pernah dapat mengelabui TUHAN.

Sebab dengan tegas Tuhan berkata: "AKU tahu segala pekerjaanmu." Jika Tuhan mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan maka Ia juga pasti mengetahui segala pekerjaan yang dilakukan orang lain terhadap kita.

"Engkau hidup, padahal engkau mati!" menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya mengetahui perbuatan kita yang tampak saja.
Ia juga mengetahui sampai kedalaman hati kita. Apabila kita masih mati rohani segeralah bangkit.
Sebab Ia sangat tidak menghendaki gereja yang mati. Dalam beribadah, jangan kita terlihat hidup, tetapi sesungguhnya mati rohani. Jika demikian untuk apa kita beribadah yang sebenarnya hanyalah sebuah kepura puraan belaka.

Contohnya, jika seorang pemimpin pujian berkata: "Marilah kita memuji Tuhan dengan lebih bersorak-sorai." Secara sekilas pernyataan ini tidak ada yang salah. Tetapi jika kita pikirkan lebih dalam, sesungguhnya jemaat yang benar-benar memiliki sukacita di dalam hatinya tidak perlu "diperintah" untuk bersorak sorai sebab mereka pasti dengan sendirinya akan bersorak-sorai, tidak perlu berpura-pura bersukacita dalam memuji TUHAN.
Contoh yang mudahnya saja adalah dalam pertandingan sepak bola. Ketika tim yang kita dukung menyarangkan gol ke gawang lawan, setiap pendukung tim pasti akan bertepuk tangan dan bersorak tanpa ada aba-aba ataupun ajakan dari orang lain. Begitu juga dalam beribadah. Jika jemaat memiliki sukacita dan semangat di dalam hatinya, tanpa harus diberi aba-aba pasti akan bersorak sorai dan bersemangat di dalam beribadah.

Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Wahyu 3:2 

Tuhan menasehatkan kepada jemaat di Sardis agar rohaninya bangun. Jemaat di Sardis sudah dalam keadaan tidur secara rohani, bahkan hampir mati rohani. Setiap kita yang datang beribadah bertujuan untuk memperoleh nasehat dari TUHAN. Untuk itu jangan pernah berpura-pura menjadi orang yang baik, melainkan milikilah hati yang mau diperbaiki.

"Kuatkanlah apa yang masih tinggal" itu berarti masih ada kesempatan yang TUHAN berikan kepada jemaat di Sardis, kepada kita, untuk memperbaiki diri. Sampai kapan kesempatan itu ada? Selama kita masih bernafas atau sebatas kesabaran Allah. Untuk itu pergunakanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.

 “Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.” Wahyu 3:3 

Untuk mencapai kesempuranaan kita harus tetap mengingat segala Firman TUHAN yang telah kita terima. Kemudian langkah berikutnya adalah mengikutinya dengan penuh ketaatan. Mengapa dalam gereja banyak orang yang berpura-pura?
Karena mereka tidak mau menerima dan mentaati Firman. Bagaimana mungkin jemaat yang tidak taat Firman layak menyandang predikat "malaikat". Untuk mencapai kesempurnaan dan dapat masuk ke dalam Sorga, kita harus memiliki hati yang mau dikoreksi dan bersedia untuk bertobat. Oleh sebab itu, jika di antara kita masih ada yang hidup di dalam kesalahan, selagi masih ada waktu bergegaslah untuk meminta ampun dan bertobat.

Sebab jika kita tidak berjaga-jaga, TUHAN akan datang seperti pencuri. Maksudnya adalah waktu kedatangan-NYA tidak akan diketahui oleh siapa pun. Berjaga-jaga bermakna selalu mau mendengar dan mentaati Firman, dan selalu memiliki kerinduan untuk bertobat jika terlanjur berbuat dosa.

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Wahyu 3:20 

 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. Wahyu 3:4 

Tidak semua individu yang tergabung dalam jemaat di Sardis adalah orang yang mati rohani atau tidak mentaati Firman. Masih ada di antara mereka yang berusaha mencapai kesempurnaan di hadapan ALLAH dengan cara tidak mencemarkan “pakaiannya” atau hidupnya. Orang yang tidak mencemarkan pakaiannya adalah orang yang layak untuk berjalan bersama-sama Yesus dengan “memakai pakaian putih”. Pakaian putih berarti kekudusan yang Yesus berikan kepada kita.
Mereka yang dipandang layak merupakan orang Kristen yang memiliki kehidupan yang tidak munafik. Tidak semua karakter kita terdiri dari kekurangan. Di samping banyaknya kekurangan yang harus kita perbaiki, ada pula hal-hal baik yang hendaknya dipertahankan. Jangan hidup seperti Salomo yang mengawalinya dengan sesuatu yang baik, tetapi mengakhirinya dengan sesuatu yang tidak berkenan kepada TUHAN. Hendaknya kita terus berusaha mengikis kekurangan kita hari demi hari dan mau dibentuk menuju pada kesempurnaan.

Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Wahyu 3:5,6 

Tidak semua jemaat di Sardis yang dapat masuk ke dalam kerajaan Sorga. Sebab hanya orang-orang yang memenuhi riteria atau syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh TUHAN saja yang dapat masuk ke Sorga.
Salah satu syaratnya adalah orang yang menang, yakni yang berhasil mempertahankan kekudusannya di hadapan ALLAH dan menang terhadap kepura-puraan. Dengan demikian, nama kita tidak akan dihapus dari kitab kehidupan. Begitu juga dengan kehidupan kita. Hendaklah kita jangan suka hidup di dalam kepura-puraan.
Berjalanlah bersama dengan TUHAN setiap hari dan raihlah kemenangan dalam mempertahankan kekudusan di hadapan ALLAH. Beribadahlah dengan kesungguhan, jangan disertai dengan kepuraan-puraan dalam beribadah.
Maka dengan cara ini nama kita tidak akan dihapuskan dari kitab kehidupan di Sorga. Sehingga ketika tiba waktunya kita masuk ke dalam Sorga, maka nama kita masing-masing akan dikenal oleh YESUS bahkan diakui di hadapan BAPA di Sorga.
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

PENGUASAAN DIRI

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. I Korintus 9:25 
Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? 
Ada dua kata Yunani yang diterjemahkan sebagai penguasaan diri yaitu EN KRATOS. 
EN berarti di dalam dan KRATOS berarti kekuasaan atau kuasa. Seseorang yang memiliki penguasaan diri adalah orang yang memiliki kekuatan di dalam dirinya. Jadi, penguasaan diri adalah salah satu kemampuan terbesar yang dapat kita miliki. Kemampuan ini akan berkembang semakin besar ketika kita senantiasa dekat dengan Tuhan Yesus.

Penguasaan diri bagi orang Kristen menunjukkan tingkat kedewasaan rohaninya (makan makanan yang keras), yang tidak hanya dalam satu aspek saja, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, suatu karakteristik mampu menahan diri secara moral terhadap segala godaan mata, pendengaran, penciuman, perasaan menggoda, yang akhirnya membuat kita ada celah dan segala kenikmatan dosa.
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Galatia 5:16 

Selama kita hidup, keinginan daging adalah bagian dari kehidupan kita dan satu-satunya cara mengendalikanny a adalah dengan hidup menurut Roh. Banyak orang sangat kecanduan dengan seks, situs-situs porno, televisi, atau aktivitas-aktivitas yang menguasai dirinya sedemikian rupa.
Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Amsal 25:28 
Menjadi orang yang bisa menguasai diri dalam segala hal adalah sebuah proses, tidak semudah membalik telapak tangan. Penguasaan diri dan disiplin diri adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan!
Paulus menggambarkan hidup sebagai arena pertandingan, dimana kita harus berjuang dan bisa menguasai diri dalam segala hal agar dapat mencapai garis finish dan memperoleh hadiah yang disediakan.

Kalau kita ingin menjadi pemenang dalam pertandingan maka ada hal yang harus ditaklukkan:
1. Jarak.
Secepat apapun seorang pelari berlari, tetapi jika tidak menyelesaikan jarak yang ditentukan, maka ia tidak dapat disebut sebagai seorang pemenang. Itu berarti dalam kehidupan, kita harus konsisten berjuang sampai garis finish.

2. Waktu.
Apabila jarak yang ditentukan dapat diselesaikan, tetapi dengan waktu yang lebih lambat dari pelari yang lain, ia juga tidak dapat disebut sebagai seorang pemenang. Demikian juga dengan kehidupan kita. Kita harus dapat menggunakan waktu seefisien mungkin, dengan tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna dan sia-sia.

3. Sikap diri.
Selain jarak dan waktu, seorang pelari yang ingin menang harus mampu menaklukkan diri sendiri, khususnya sikap cepat puas dan tidak mau untuk menanggung kesulitan dalam dirinya. Tidak ada kemajuan tanpa kesulitan. Berlari dengan tujuan Apabila seseorang tidak memiliki tujuan hidup , dia akan seperti layang – layang putus yang diterbangkan angin entah kemana! miliki tujuan hidup! arahkan pada panggilan Tuhan.
Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. I Korintus 9:25,26 

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Filipi 3:13,14 

Disiplin diri dan menguasai medan yang akan dilalui adalah hal sangat penting dalam pertandingan hidup. Jangan biarkan kesalahan sekecil apapun pada masa lalu dan godaan-godaan lain menghalangi jalan kita untuk mencapai finish. Mari, ijinkan Roh Kudus mengendalikan hidup kita. Bila hidup kita dipimpin oleh Roh kudus, kita akan bisa menaati firmanNya. Roh Kudus yang diam dalam diri kitalah yang akan menolong ketika kita bertempur melawan segala macam bentuk godaan dosa. Jadi, bukan kemampuan kita sendiri!
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Selasa, 09 Oktober 2012

ALAT PENAMPI

Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." Matius 3:12 
Di tangan-Nya ada nyiru untuk menampi semua gandum-Nya sampai bersih. Gandum akan dikumpulkan-Nya di dalam lumbung, tetapi semua sekam akan dibakar-Nya di dalam api yang tidak bisa padam." Matius 3:12 (BIS) 

Tempat pengirikan adalah tempat untuk memisahkan (menginjak-injak) gandum supaya terlepas dari tangkai dan kulitnya. Sedangkan alat penampi adalah wadah untuk mengangkat gandum ke atas dan ke bawah sehingga kulit gandum tertiup dan penuai mendapat gandum yang bersih. Maka proses penampian dan pengirikan ini dapat ditafsirkan sebagai tempat pemurnian gandum.

Sama seperti proses pemurnian pada gandum, proses pemurnian pada hidup kita juga mengalami proses pembebanan, seperti di injak-injak dan di banting-banting. Serasa Tuhan begitu ‘kejam’ memroses kita. Tetapi kalau kita meninjau dari aspek sehari-hari yang lazim terjadi pada diri kita seperti: kesombongan, kekerasan hati, kemegahan diri dan pikiran-pikiran yang menajiskan, maka proses pembebanan itu tidak lain untuk menghancurkan kedagingan dan kenajisan kita.
Kemudian dengan alat penampi kita akan di angkat ke atas dan ke bawah berulang-ulang sampai semua kulit gandum terpisah ditiup angin. Lalu Tuhan membakar semua debu jerami yang tidak terpakai. Dapat diartikan, Tuhan sendiri adalah api yang membakar bagian yang buruk-buruk dalam kehidupan kita.

Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 
tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." Lukas 22:31,32 
Setiap anak Tuhan akan melalui proses penampian tidak ada yang tidak. Cuma apakah saat penampian hati dan hidup kita tetap setia atau malah tergoncang.

 Ada 3 Proses Pengirikan ini:
1. Mengirik. Memisahkan gandum dengan batang jeraminya. Biasanya dipakai keledai atau sapi untuk memutar gilingan. Pengirikan ini berbicara tentang Kesusahan atau Penderitaan. Ingat bahwa penderitaan, kesusahan, pencobaan itu tidaklah selamanya. Dan Tuhan berjanji dalam firman-Nya bahwa hal itu tidak akan pernah melebihi taraf kesanggupan kita. Juga Tuhan selalu menyediakan jalan keluar, agar kita dapat menanggungnya

2. Menampi.
Memisahkan gandum dengan sekam yang kelihatannya sama, tetapi yang tidak BERBOBOT, akan terlempar dari tampian itu. Sebagai anak Tuhan, perlu kita perhatikan BOBOT kita didalam Tuhan.
Apakah hanya karena masalah yang kecil, atau karena kebodohan kita sendiri, lalu kita menyalahkan Tuhan? Ataukah kita tidak tergoncangkan? Ditengah dunia yang memang sedang Yesus goncangkan
Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Ibrani 12:26-27 

3. Membakar jerami dan sekam.
Segala yang tidak berguna dan tidak berbobot akan dibakar dalam perapian. Tuhan sedang melakukan pengirikan kepada kita agar kita dimurnikan dan berbobot. Pada waktu panen petani memanfaatkan angin untuk menampi bulir bulir gabah yang akan diirik. Biasanya mereka naik ke atas meja lalu menuangkan gabah-gabah ke tempat yang telah disediakan. Ketika angin berhembus, sekam (gabah yang tidak ada isinya) terbawa angin dan tidak jatuh di tempat yang telah disediakan untuk gabah.

Bulir-bulir gabah yang berisi akan dikumpulkan dan dibawa pulang, sedangkan sekamnya dikumpulkan untuk dibakar. Ini sama halnya dengan pola kerja Allah dalam menyaring umat yang berkualitas, berbobot, dan berisi. Melalui angin masalah, problema keuangan, keluarga, masa depan, nilai-nilai kehidupan, Tuhan menempa umat yang berkualitas

Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya Mazmur 33:18 

Penyertaan Tuhan itu sempurna bahkan rambut di bagian kepala kita saja dalam perlindungan Tuhan apalagi seluruh bagian di hidup kita.
Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Lukas 12:3 

Manusia cenderung menyukai kehormatan manusia daripada Bapa
Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Yohanes 12:42 

Bagi kehidupan, apakah kita sudah berkualitas di hadapan Tuhan? atau menjadi orang yang benar-benar mengecewakan.
Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Matius 3:10 

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. I Yohanes 2:15 

Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Yohanes 4:36 

Ada kisah tentang seorang anak remaja yang diberikan sebuah batu besar oleh Tuhan di depan rumahnya. Tuhan berpesan, “Nak, doronglah batu besar ini dengan sekuat tenagamu tiap hari!”
Remaja itu melakukan dengan setia, hingga menginjak usia pemuda. Ia heran batu itu tidak bergeser sedikit pun. Ia berusaha lebih kuat lagi, tetapi tetap tidak ada hasilnya. Akhirnya, ia menyerah dan berkata kepada Tuhan, “Ah Tuhan, aku malu. Aku harus akui bahwa aku gagal melaksanakan tugasMu. Batu itu terlalu besar bagiku.”
Tuhan menjawab dengan lembut, “Nak, siapa yang menyuruhmu menggeser batu besar itu? Aku hanya menyuruhmu mendorong batu itu sekuat tenaga setiap hari. Aku melihat dan menguji ketekunanmu. Usahamu telah membawa hasil. Tubuhmu kini menjadi kekar. Sekarang kutugaskan kamu untuk menyelamatkan desa seberang dari kelaparan. Pergilah dan perbaikilah segera jembatan yang roboh itu. Dengan kekuatanmu bawalah batang-batang pohon itu untuk membangun kembali.”

Berkat pertolongan pemuda ini, desa tersebut selamat dari kelaparan. Batu yang selama ini menjadi beban ternyata kemudian hari menjadi berkat. Dari pengalaman itu, ia mensyukuri apa yang belum ia pahami.

Seperti pepatah lama berkata, “Kita tidak dapat mengubah arah angin, akan tetapi kita selalu dapat menyesuaikan angin dengan layar perahu kita.”
 Oleh: Ev. Liem Thin Ping

TIDAK MENDAPAT MALU

Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. Mazmur 25:2-3 

Pada saat kita mendapat masalah, jangan takut ataupun bimbang. Tuhanlah yang menjadi penopang kita. Hanya kepada Allah saja kita harus percaya. Karena Tuhanlah yang dahsyat dan mampu mengubah semua keadaan yang kita alami. 
Yang penting saat kita mendapatkan masalah kita mengerti akar permasalahan itu. Apakah itu adalah karena kesalahan/dosa kita semata-mata atau karena itu adalah ujian yang diberikan Tuhan untuk mengolah kita menjadi lebih indah. Bila masalah yang terjadi adalah karena dosa kita, kita harus meminta maaf kepada Allah. 
Bila masalah yang terjadi adalah ujian yang diberikan oleh Allah, maka kita tidak usah merasa malu dan stress, karena Allah akan memberikan jalan keluar untuk kita. Dan saat kita lulus ujian itu, kita bisa mendapatkan hadiah kita dan naik tingkat yang lebih tinggi lagi. Jadi, mari kita berjuang untuk ujian-ujian tersebut. Fighting! 
Oleh: Sdri. Elsa