Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Kamis, 12 Juli 2012

PEREMPUAN SAMARIA

Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Yohanes 4:3-19
Wilayah Israel dulu terbagi tiga daerah, yakni Yudea (Yerusalem) di selatan, Galilea (Nazaret) di utara, dan di antara kedua wilayah ini terletak Samaria. Orang Yudea dan orang Galilea merasa diri orang Yahudi tulen walau sikap keagamaan masing-masing agak berbeda. Orang Yudea, khususnya yang di Yerusalem, beranggapan diri mereka lebih patuh beragama daripada orang Galilea yang biasanya lebih bebas sikapnya. Tetapi baik orang Yudea maupun orang Galilea umumnya menganggap orang Samaria sesat karena mereka hanya mengakui Kelima Kitab Musa (Pentateukh) sebagai Kitab Suci mereka. Ada konflik yang berkepanjangan antara orang-orang Yahudi dengan Samaria. Samaria dahulu adalah ibukota kerajaan utara Israel di masa perpecahan kerajaan-kerajaan.
Pada 721 SEB (Sebelum Era Bersama), Asiria mengalahkan Israel, dan mengusung sebagian besar penduduknya ke Asiria. Orang-orang Asiria menggantikan penduduk asli dengan lima suku asing yang kemudian menetap di daerah itu (lihat 2 Raja-raja 17:13-34). Akhirnya banyak dari bekas penduduk asli tadi pulang ke Samaria dan kawin dengan orang-orang dari kelima suku asing tadi. Di jaman Yesus, orang-orang Yahudi menganggap orang-orang yang tinggal di Samaria bukan keturunan sejati dari para nenek moyang Yahudi, dan agama mereka bukan Yudaisme sejati, melainkan campuran aneka macam kepercayaan. Dalam Yoh 4:9 dikatakan perempuan Samaria itu heran, masakan seorang Yahudi minta minum kepadanya, orang Samaria.
Dan Injil menyisipkan penjelasan “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.” Perempuan Samaria tadi datang ke sumur “kira-kira pada pukul dua belas” (ay. 6). Ini tak lazim. Biasanya orang tidak menimba air pada tengah hari. Boleh jadi perempuan tadi merasa kurang enak bertemu para perempuan lain. Memang kehidupan pribadinya tidak bisa dibanggakan, juga di masyarakat Samaria sendiri.
Dalam bagian pertama percakapan, Yesus menyebut-nyebut “air yang hidup” yang bisa diberikannya kepada perempuan Samaria tadi. Dan air yang hidup itu tidak bakal membuat orang haus lagi. Yang meminumnya akan menemukan dalam batinnya mata air yang memancarkan air tak henti-hentinya sampai ke hidup abadi.
Apa maksudnya? Dalam bahasa sehari-hari di sana dulu, “air hidup” ialah air yang mengalir, seperti air sungai atau air yang keluar dari sumber air, bukan air yang mandek seperti air yang tertampung dalam sumur.
Yesus – sumber air hidup – meminta minum dari perempuan Samaria yang datang hendak menimba air sumur yang bukan air mengalir – bukan air hidup. Meskipun Yesus menjelaskan arti rohani air hidup, perempuan tadi tidak langsung menangkap. Bisa jadi ia malah mengira Yesus berbicara mengenai tempat yang ada sumber air yang mengalir. Dari zaman dulu maupun dari zaman sekarang kita sama-sama diajak menyadari bahwa Tuhan tetap mendatangi manusia, meskipun kekaburan mata batin kita sering membuat sosoknya kurang jelas dan suaranya terdengar lirih oleh telinga batin yang belum peka. Namun Tuhan membantu, kadang-kadang dengan menyapa kehidupan pribadi kita yang sering menjadi beban yang hanya bisa ditanggung. Baru di situ kita akan menyadari bahwa ada kekuatan dari atas yang mendekati dan memerdekakan.
 Jadi saat kita mau menikmati ‘air hidup’ itu kita harus keinginan menimbanya dan membuka hati selebar lebarnya supaya terisi penuh oleh air kehidupan itu biar kita tidak haus lagi. Hati itu akan terisi penuh, asal tempat dalam hati kita mau dikosongkan dari segala hal yang tidak benar selain itu hambatan hambatan yang menghalangi air itu mengalir dalam hati kita itu harus sering dibersihkan. Supaya hati kita tetap bersih kita harus sering mengasah selokan selokan hati kita dengan firman Tuhan. Jadi kita harus mau ditegur oleh firman baik dengan kasar maupun halus dan mau berubah. Sudah selokan selokan hati kita sudah besih atau masih banyak hambatan.
“Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” Roma 5:1-2 Hati yang bersih dan yang berkenan akan nampak dan buah buah dari Roh kudus akan kelihatan.
oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar