Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Senin, 03 Maret 2014

MENABUR DAN MENUAI

Pada dasarnya setiap manusia di muka bumi ini sedang menabur. Hanya ada perbedaan antara penabur benih yang satu dengan penabur benih lainnya.
Perbedaannya adalah:
1. BENIH YANG DITABUR.
2. BANYAK SEDIKITNYA BENIH YANG DITABUR.
3. TEMPAT MENABURNYA.
4. WAKTU UNTUK MENUAI.

1. BENIH YANG DITABUR.
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Galatia 6:7
Janganlah tertipu. Allah tidak bisa dipermainkan! Apa yang ditanam, itulah yang dituai (BIS). Galatia 6:7
Paulus mengingatkan, “Jangan tertipu atau jangan menipu dirimu sendiri! Karena kita tidak akan dapat mengelabui Tuhan. Tuhan tahu benih apa yang ditaburkan, jenis benih itulah yang akan dituai pada masa panen.”

Alkitab menyebut dengan bermacam-macam benih, tapi pada prinsipnya dibagi 2 jenis yaitu:
 Benih yang baik

Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap. Amsal 11:18
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Galatia 6:9
 Benih yang jahat atau tidak baik
Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Amsal 22:8
Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung; gandum yang belum menguning tidak ada pada mereka; tumbuh-tumbuhan itu tidak menghasilkan tepung; dan jika memberi hasil, maka orang-orang lain menelannya. Hosea 8:7

Pelajaran yang sangat penting yang harus kita ketahui ”kita akan menuai apa yang kita tabur. Kita tidak akan menuai yang lain, kita akan menuai hasil persis seperti apa yang ditabur.” Apabila kita menabur ilalang, kita akan menuai ilalang. dan tidak mungkin kita akan menuai gandum. Saat ini kita sedang menabur benih, demikian juga saudara. Setiap saat adalah saatnya menabur bagi kita,namun pada waktu yang sama kita juga sedang menuai. Saat ini kita sedang menuai panen dari bibit yang ditaburkan pada masa lalu; sebagian kita menaburnya dengan sakit lutut dan pinggang (doa dengan berlutut); sebagian kita menaburnya dengan air mata. Kita telah melewati banyak pengalaman dalam hidup ini. Apa yang kita alami saat ini merupakan tuaian dari apa yang kita tabur pada masa lalu.
Benih yang kita tabur juga merupakan faktor penentu dimana kita akan berada nantinya dalam alam kekekalan; di Surga atau di Neraka? disana kita akan menuai panen tersebut untuk selama-lamanya.

Macam macam panen
1. panen saat ini
2. panen yang kekal.
Di kekekalan akan menuai apa yang sudah kita tabur.

Ekspresi waktu menuai
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. Mazmur 126:5,6
Ekspresi orang yang menuai karena menabur benih yang baik adalah bersorak-sorai (Bersukacita). Sebaliknya orang yang menuai benih yang jahat berdukacita. Singkatnya ekspresi menuai adalah salah satu indikator baik atau jahatnya benih yang kita tabur sebelumnya.

Perhatikan tuaiannya
Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Amsal 22:8
Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung; gandum yang belum menguning tidak ada pada mereka; tumbuh-tumbuhan itu tidak menghasilkan tepung; dan jika memberi hasil, maka orang-orang lain menelannya. Hosea 8:7
Yang menabur dengan kejahatan pasti menerima yang jahat, tapi tidak semua orang yang sedang menerima jahat karena menabur benih yang jahat. Kasus ini terjadi pada Ayub. Jadi dalam konteks ujian Tuhan terhadap anaknya, maka apa yang dialami seseorang saat ini tidak berarti itu adalah akibat menabur kejahatan sebelumnya. Namun demikian setiap orang yang menabur kejahatan, kejahatan pula yang akan ia tuai.

2. BANYAK SEDIKITNYA BENIH YANG DITABUR
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. II Korintus 9:6
Allah memberkati orang yang memberikan hidup dan harta bendanya. Berikanlah waktu, maka akan memperoleh lebih banyak waktu untuk diberikan. Janganlah membatasi kasih, maka kita akan memperoleh kasih yang lebih banyak untuk orang lain daripada sebelumnya.
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Amsal 11:24
Banyak para penabur kebaikan, menabur hanya sedikit atau hanya asal menabur, dengan kata lain mereka lebih memilih untuk jadi penabur yang malas atau kikir. Mereka belum tahu bahwa jumlah yang mereka taburkan adalah ukuran yang akan mereka tuai. Seorang petani yang menanami ratusan atau ribuan are tanah mengetahui bahwa, ia akan menuai lebih banyak daripada yang ia tabur, namun selalu dalam proporsi dengan apa yang ia tanam. Orang yang murah hati dengan waktunya, talentanya, dan sumber dayanya akan menuai dengan limpah. Orang yang murah hati dengan kasih, penghargaan, dan belas kasihan akan menuai sesuai dengan proporsi sifat-sifat yang ia taburkan. Ketika kita menanam sebutir biji jagung, kita menuai sebatang tanaman jagung dengan beberapa bonggol jagung. Pada bonggol-bonggol jagung itu terdapat ratusan butir jagung. Demikian juga dengan sebatang gandum. Hanya Allah yang dapat merancang keajaiban ini. Hukum pengembalian yang bertambah ini membuat pertanian menjadi suatu usaha yang dapat dijalankan. Menabur menurut Roh memberi hasil dalam kehidupan kekal.

Jadi prinsip tabur tuai bukan hanya menuai apa yang kita tabur, tetapi juga menuai lebih banyak daripada apa yang kita tabur. Hal itu adalah benar, terlepas dari apapun yang kita tabur entah itu baik atau jahat. Untuk itu Alkitab mengajar kita untuk tidak jemu-jemu dalam menabur kebaikan karena suatu saat kita pasti menuai sukacita.
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Galatia 6:9

3. TEMPAT MENABURNYA
Ada 2 ladang atau tempat di mana kita bisa menabur.
 Menabur dalam daging
Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu Galatia 6:8
Ketika kita menabur dalam daging, kita akan menuai “kebinasaan” karena apa yang ditabur semuanya untuk diri sendiri.
φθορα phthora, kata ini berarti “membusuk, rusak, musnah”, dan itulah yang kita lakukan jika kita secara moral dan rohani membusuk. Kita berubah dari hidup menjadi mati.
 Menabur dalam Roh
Menabur dalam Roh adalah orang yang mau berbagi untuk orang lain dan mau mengambil bagian secara aktif untuk pekerjaan Tuhan. Paulus mengingatkan jemaat Galatia untuk senantiasa mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, entah melalui daya, dana maupun doa.

4. WAKTU UNTUK MENUAI
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam. Pengkotbah 3:2
Setiap jenis tanaman mempunyai waktu menuai berbeda-beda, tergantung pada jenis tanaman yang ditanam. Kalau kita menanam jagung, padi, kedelai tentu 3-4 bulan sudah dapat dipanen. Tapi kalau kita tanam kelapa, kelapa sawit atau karet 3-7 tahun baru kita akan bisa memetik hasilnya.
Suatu pelajaran yang pasti menabur adalah bagian kita, sedang menuai itu urusan Tuhan. Untuk itu lakukan saja bagian kita, karena suatu saat namun pasti kita akan menuai, baik selama kita di Bumi ini atau di Bumi yang baru. Petani tahu ada waktu untuk menanam dan ada waktu untuk memetik masing masing terjadi pada waktu yang berbeda. Allah selalu menyelesaikan perhitungan-Nya.

Seorang penginjil muda dari Eropa berangkat dengan penuh semangat ke tanah Afrika sebagai seorang misionaris. Dia membawa serta istrinya dan anak perempuannya yang masih kecil. Lama dia berusaha, tidak ada hasil. Istrinya mati dengan menyedihkan di tempat misi mereka. Tak ada hasil. Satu-satunya yang dia dapat hanyalah seorang anak desa yang kumuh dan ingusan yang mendengarkan cerita tentang Yesus. Pulanglah dia dengan kepahitan dan sakit hati. Dia mengabaikan anaknya dan meninggalkan Tuhan. Hidup mabuk-mabukan dalam kesengsaraan yang merobek jiwa. Tahun demi tahun berlaku, anak perempuannya tumbuh dan menikah dengan pria baik-baik dan kemudian berusaha mencari ayahnya. Menyertai dia, adalah seorang penginjil kulit hitam yang telah berkhotbah di hadapan ribuan orang di berbagai Negara. Penginjil itu adalah anak kecil yang dikhotbahi penginjil yang sakit hati itu, dahulu kala.

Karena itu lihatlah ladang market place kita. Apa yang kita lihat? Tuaian yang menguning. Kita bisa melihat dengan pahit dan kecewa seperti sang penginjil itu, atau kita melihat dengan mata iman, bahwa sungguh Allah yang menyediakan tuaian. Kenali ladang tuaian dan kerjakan bagianmu, karena kapan kita akan menuai itu adalah bagian Tuhan. 
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar