Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Rabu, 14 Agustus 2013

MEMBERKATI ATAU DIBERKATI

"Dengarlah!Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."
Markus 4:3-8
Prinsip ekonomi yaitu dengan mengeluarkan seminim mungkin untuk memperoleh hasil sebesar besarnya.
Kalau prinsip firman Tuhan orang menabur sedikit akan mendapat sedikit, orang yang menabur banyak akan memperoleh banyak pula.
Kalau kita melihat hal yang berhubungan dengan menabur. Banyak kita menabur baik sedikit maupun banyak tetap kita tidak mendapat apa apa, kenapa demikian?
Karena apa yang kita tabur tidak tepat sasaran.
Kalau kita sudah tepat sasaran mengapa tetap tidak diberkati? Orang yang menabur kalau ia tabur tepat sasaran, dia akan tahu saat saatnya dia menerima berkat. Saat dia terima berkat, berkatnya tidak akan berhenti walau ada orang atau sesuatu yang menghambat atau menghalangi bila berkat itu tecurah.

Sering kita sebagai orang Kristen bukan sebagai pelaku firman, kita menabur sedikit biar mendapat keuntungan yang sebesar besarnya (ngrekes atau mumpungi).Kita menabur atau bahkan ada yang tidak menabur biar gereja, pendeta atau salah seorang jemaat tahu kehidupan kita lalu membantu kita, itulah mental kita. Gereja kalau ada orang orang yang bermental demikian maka gereja itu akan sulit terbangun kerohaniannya. Gereja itu bisa banyak jemaatnya tapi kerohanian yang didalamnya keropos.Masa sekarang gereja lebih cenderung memenuhi gedung dengan banyak jemaat tanpa memikirkan kerohanian yang ada didalamnya.
Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Galatia 3:29
Kita juga mengetahui panggilan kita sebagai anak-anak Tuhan, keturunan Abraham yang berhak menerima janji-janji Allah yaitu untuk “diberkati dan menjadi berkat”. Pertanyaannya, bagaimana cara Tuhan menggenapi janji-janji tersebut melalui kehidupan anak-anak-Nya? Apakah Allah harus memberkati kita terlebih dahulu, barulah kita dapat menjadi berkat atau bagaimana?

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Kejadian 12:2
Menurut kitab Kejadian kita diberkati dahulu, barulah setelah itu kita dapat menjadi berkat.Itu memang logika berpikir yang umum dan biasa. Tetapi Allah kita itu luar biasa! Ia tidak terikat kepada cara atau logika berpikir manusia.Allah bahkan sering menempuh jalan paradoks, yaitu kebalikan dari cara berpikir manusia pada umumnya.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55:9

Kita dapat menemukan beberapa contoh peristiwa dalam Alkitab di mana Allah menggunakan cara yang kebalikan dari logika berpikir manusia. Untuk mengalami keberkatan, Allah justru menyuruh kita untuk terlebih dahulu menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Itulah yang disebut mujizat.Itulah yang disebut campur tangan Allah yang ajaib.Itulah yang disebut perkara yang luar biasa. Itulah cara Allah.

Kisah nabi Elia dan janda miskin di Sarfat (1 Raja-raja 17:11–14).
Didalam I Raja raja 17:5-7 Elia tinggal di tepi sungai Kerit sedang burung gagak setiap harinya mengirim makanan sampai sungai Kerit menjadi kering. Elia harus meninggal kan daerah Israel yang mengalami kekeringan selama 3 tahun menuju ke Sidon yang daerahnya yang tidak mengalami kekurangan air. Ini dibuktikan saat Elia minta minum pada janda Sarfat, janda Sarfat ini tidak bermasalah. Yang dimasalahkan yaitu masalah makanan, maka itu Tuhan membuat mujizat hanya tepung dan minyak dalam buli buli tidak habis (I Raja raja 17:16) bukan mujizat air yang tidak pernah habis.

Elia harus menemui seorang janda yang sangat miskin. Ia juga memiliki seorang anak yang harus diberinya makan. Yang mereka punyai pada saat itu hanyalah tinggal “tepung segenggam dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli.” Mereka sungguh-sungguh miskin, sebab tepung dan minyak itu hanya dapat dipakai untuk membuat makanan yang hanya cukup untuk dimakan oleh si janda dan anaknya sekali makan saja, dan sesudah itu mereka hanya menunggu mati kelaparan. Tapi sekarang dalam keadaan yang miskin, sengsara dan tidak ada harapan yang sering kita menyebut keadaan “tidak diberkati,” Tuhan justru mengutus seorang hamba-Nya untuk meminta makan orang yang tidak terbekati (supaya ia menerima berkat). Ini tidak masuk akal! Bagaimana orang yang miskin atau tidak diberkati (yang dimaksud disini bukan orang kikir) dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Tetapi inilah cara Tuhan yang di luar logika berpikir manusia untuk memberkati si janda itu dan anaknya supaya mereka dapat melewati masa kelaparan. Si janda itu disuruh untuk memberkati orang lain dahulu, dalam hal ini adalah nabi Elia, sebelum Tuhan memberkatinya. Untungnya si janda itu tidak bersikeras dengan logika berpikir manusia pada umumnya.Ia taat saja kepada apa yang diperintahkan Tuhan melalui hamba-Nya nabi Elia, dan setelah itu kita mengetahui bagaimana Tuhan memelihara si janda dan anaknya itu untuk melewati masa kelaparan.Banyak kita cenderung memberkati karena ada maksud maksud yang lain (ada udang dibalik batu).
Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
I Raja-raja 17:15,16

Hal yang serupa juga Tuhan lakukan kepada Abraham.Abraham tidak mempunyai anak sebab Sara isterinya mandul. Tetapi Abraham disuruh Tuhan untuk mendoakan Abimelekh dan isterinya yang juga telah ditutup Tuhan kandungannya. Kita mungkin bertanya, bagaimana Abraham yang tidak dapat mempunyai anak disuruh mendoakan orang lain yang juga tidak dapat mempunyai anak. Tetapi Abraham taat dan melakukannya. Doa Abraham didengar Tuhan. Abimelekh dan isterinya dapat mempunyai anak. Dan setelah itu kita membaca bahwa janji Tuhan kepada Abraham digenapi dan Sarapun mempunyai anak (Kejadian 20:17,18; 21: 1–3).

Demikian pula dengan pengalaman Petrus. Semalam-malaman Petrus mencari ikan dengan perahunya di danau Genesaret (Lukas 5:1-7), tetapi tidak seekor ikanpun dapat dibawa pulang Petrus dengan perahunya. Dalam keadaan gagal seperti itu datanglah Tuhan Yesus dan meminjam perahu Petrus untuk digunakan Tuhan Yesus sebagai mimbar untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Setelah selesai, Tuhan Yesus menyuruh membawa perahu yang ‘gagal atau tidak terbekati’ itu ke tengah danau untuk mencari ikan disiang bolong. Yesus mau mengubah perahu yang tidak terbekati atau orang yang tidak terberkati menjadi terbekati. Disitulah mujizat Tuhan terjadi. Petrus berhasil menangkap ikan banyak sekali, sehingga diperlukan satu perahu tambahan untuk menampung dan membawanya ke darat. Perahu Petrus dipakai Tuhan untuk menjadi berkat dahulu bagi orang lain, kemudian Tuhan memberkati perahu itu dengan tangkapan yang sangat banyak. Itulah cara Tuhan!

Mengapa bisa demikian?
Karena Petrus taat, walaupun yang disuruh oleh Yesus tidak masuk akal yaitu menangkap ikan disiang bolong.
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."
Lukas 5:5
Intinya saat perahu kita ada Yesus (Markus 4:35-41) walau ada angin ribut atau badai tetap terselamatkan. Tapi perahu atau diri kita yang tidak terberkati, saat kita taat kemana perahu kita diarahkan walau tidak masuk akal sekalipun, maka berkat akan mengalir dengan cara tidak masuk akal juga.
Prinsip memberkati atau berbuat kepada orang lain terlebih dahulu sebelum kita diberkati ternyata berlaku pula untuk hal lainnya, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan:
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka (terlebih dahulu). Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi
Matius 7:12

Demikian juga dalam hal memberi:
Berilah (dahulu) dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Lukas 6:38
Prinsip memberi terlebih dahulu adalah prinsip ekonomi Allah agar kita mengalami terobosan ekonomi dan keluar dari lingkaran setan kemiskinan.
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. II Korintus 9:6
Yang harus dicamkan di sini bukan hanya dalam prinsip ekonomi Allah yang disebut hukum “tabur-tuai” ini akan terjadi pelipatgandaan tetapi juga perlu diperhatikan untuk menuai kita harus menabur terlebih dahulu. Dalam bahasa bisnis kita harus invest terlebih dahulu sebelum kita menikmati profit (untung).

Banyak orang menunggu diberkati terlebih dahulu, barulah mereka berpikir dan berniat untuk memberkati. Tetapi janji ini seringkali juga tidak ditepati, karena banyak orang yang sudah diberkati tetapi mereka tetap enggan untuk memberkati.Kalaupun mereka memberi, mereka memberi ala kadarnya saja. Tetapi jika kita ingin melihat mujizat Allah dalam bidang ekonomi atau mengalami terobosan Allah, kita harus berani melakukan tindakan iman untuk memberkati orang lain dahulu dengan cara apapun yang kita bisa, bukan hanya dengan uang atau harta kita. Dan ini kita lakukan meskipun keadaan kita pada waktu itu belum baik, belum berhasil, “belum diberkati” atau malah sedang mengalami masalah. Kita tidak menunggu terlebih dahulu sampai keadaan menjadi baik dan kita diberkati berlimpah-limpah setelah itu baru kita bergerak untuk memberkati.
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar