Rek BCA: 2 1 4 0 5 9 4 8 0 9 a/n INDRAWATTY

Shalom. Selamat Datang & Selamat Bergabung Di Web Blog "House Of All Nations". Kami mengundang Bapak, Ibu & Saudara/i yang rindu untuk datang beribadah dan berkumpul bersama pada jadwal kebaktian Kami. Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita. Bagi anda yang diberkati oleh warta ini, anda bisa membantu kami berupa dana yang dapat anda kirimkan ke rekening kami di atas.

Selasa, 19 Juni 2012

PRIOPRITAS HIDUP

Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Pengkotbah 1:1-3
Dalam tubuh manusia biasanya yang paling diprioritaskan yaitu wajah, lalu prioritas kedua kalau tubuhnya langsing pasti ya bentuk tubuhnya, kalau kakinya indah pasti kakinya, kalau matanya indah ya matanya. Mereka akan mau mengeluarkan biaya perawatan yang banyak untuk sesuatu yang diprioritaskan ini. Demikian juga dengan kekristenan orang berani susah, menderita, sengsara, bayar harga untuk sebuah prioritas yang utama. Kita bahkan mau buang tenaga, waktu dan harta. Benarkah kita sebagai orang Kristen Yesus yang jadi prioritas utama?
Bagaimana bila kita disodori uang, kedudukan, wanita, kendaraan rumah atau jabatan, apakah iman kita bisa tergeser dan terbeli? Kalau iman kita tergeser prioritas kita pasti tidak jelas atau tidak punya ketegasan, tidak punya jati diri atau Kristus bukan yang utama. Lalu apa prioritas kita sebenarnya? Hidup itu pilihan, namun kadang kita harus menjalani tanpa bisa memilih atau memang tidak ada pilihan. Terkadang kita bingung apakah pilihan kita sudah tepat, terbaik atau tidak?
Hidup hanya sekali, jadi janganlah kita menyesali apa yang sudah kita lakukan. Bagaimanapun juga itu adalah hasil dari pilihan yang pernah kita ambil (walau pernah salah). Orang yang benar-benar menyadari bahwa hidup ini hanya satu kali, pasti akan memakai hidupnya dengan baik. Dia tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada dan dia akan berhati-hati dalam setiap pilihan hidup yang akan dia ambil. Baginya, dia dapat tetap hidup dan meneruskan perjalanan hidupnya hari ini adalah sebuah anugrah dan kesempatan. Dia takkan membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak berguna.
Ada banyak tipe orang yang sering kita temui:
• orang yang sangat berambisi dalam hidupnya. Orang yang seperti ini cenderung seorang pekerja keras, sehingga dia lupa apa artinya menikmati hidup. Dia akan mengejar goalnya dengan caranya masing-masing, dan dia berambisi untuk mendapatkannya walaupun menghalalkan segala cara. Sehingga dia tidak akan pernah bisa menikmati hidupnya dan apa yang dia lakukan, jadi pikirannya adalah kemenangan, kesuksesan dan keberhasilan saja.
• Orang yang tahu bagaimana mengisi kegiatan yang berguna. Orang itu menjalani hidupnya dengan prioritas, namun dia tetap santai menjalaninya. Dia tahu dalam perjalanan hidupnya, dia tidak perlu terus terpaku pada tujuan hidupnya. Namun sesekali dia akan berjalan santai dan melihat sekekelilingnya tanpa melupakan prioritas hidupnya. Dia tahu hidup ini indah, jika dia menikmatinya.
• Orang yang tidak tahu akan tujuan hidupnya Jadi dia akan menjalani hidup dengan sangat santai dan bermalas malasan, karena ia berpikir selama ada yang memberi makan, memberi uang, memberi apa yang ia butuhkan mengapa ia harus bekerja. Kadang dia akan merusak dirinya dengan tawuran, merampok, mencopet, mabuk, minta minta dll.
Lalu apakah arti hidup? Bagaimana kita dapat menemukan tujuan, pemenuhan dan kepuasan dalam hidup? Apakah kita memiliki potensi untuk mencapai sesuatu yang memiliki makna yang kekal?
Banyak orang tidak pernah berhenti mempertimbangkan apakah arti hidup itu. Mereka memandang ke belakang dan tidak mengerti mengapa relasi kita dengan yang kita tuju menjadi berantakan dan mengapa kita merasa kekosongan walaupun kita telah berhasil mencapai apa yang kita cita-citakan. Bagaimanapun juga, setiap orang memiliki pandangannya sendiri-sendiri tentang hidup.
Sebagian orang memandang hidup sebagai sebuah perjuangan, ada pula yang menganggap hidup seperti sebuah roda yang terus berputar, atau hidup adalah sebuah script film yang sudah disutradarai oleh Tuhan, hidup seperti buah pion yang perlu ada suatu tangan yang besar mengerakkannnya dan banyak lagi yang lain. Bagi kita hidup adalah anugrah yang telah Tuhan berikan. Anugrah itu adalah kehendak bebas yang bertangung jawab. Allah ingin kita menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Saat kita kembali, kita bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah kita lakukan. Dalam masyarakat humanistik, orang mengejar banyak cita-cita, menganggap bahwa di dalamnya mereka akan mendapatkan makna. Beberapa cita-cita ini termasuk kesuksesan bisnis, kekayaan, relasi yang baik, seks, hiburan, berbuat baik kepada orang lain, dll.
Mereka akan bercerita bahwa saat mencapai cita-cita untuk mendapat kekayaan, relasi dan kesenangan, di dalam diri mereka ada perasaan kosong yang dalam, yang tidak dapat dipenuhi oleh apapun. Pengkhotbah menjelaskan perasaan ini ketika dia mengatakan, “Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka, … segala sesuatu adalah sia-sia.” Penulis memiliki kekayaan yang tak terkira, hikmat kebijaksanaan yang melampaui orang-orang pada zamannya maupun zaman sekarang, dia memiliki ratusan wanita, istana dan taman yang menjadikan kerajaan-kerajaan lain cemburu, makanan dan anggur terbaik, dan segala bentuk hiburan. Satu saat dia berkata, segala yang diinginkan hatinya dikejarnya. Namun kemudian dia menyimpulkan, “hidup di bawah matahari” (hidup dengan sikap sepertinya hidup itu hanyalah apa yang kita lihat dan rasakan) adalah kesia-siaan belaka! Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?
Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram.
Inipun sia-sia. Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Pengkotbah 2:22-24
Mengapa bisa ada kehampaan seperti ini? Karena kita tidak sungguh sungguh memprioritaskan Allah menjadi yang utama dalam diri kita.  
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1:27
 Gambaran Allah ada dalam diri kita, harusnya kita memulihkan gambaran dalam diri kita yang rusak dan jadikan Kristus yang utama bukan yang lainnya. Sebelum manusia jatuh dalam dosa dan sebelum bumi dikutuk:  manusia sebagai makhluk sosial (Kejadian 2:18-25)
 manusia pekerjaan (Kejadian 2:15)
 manusia memiliki persekutuan dengan Allah (Kejadian 3:8)
 manusia punya kuasa atas bumi (Kejadian 1:26).
HIDUP DIPULIHKAN MELALUI YESUS KRISTUS Arti hidup yang sebenarnya tidak ditemukan hanya dengan mengenal Yesus sebagai Juruselamat (seindah apapun hal itu). Makna hidup yang sebenarnya ditemukan ketika orang mulai berjalan mengikuti Kristus sebagai muridNya, belajar dari Dia, menggunakan waktu bersama dengan Dia dalam FirmanNya, bersekutu dengan Dia dalam doa, dan berjalan denganNya dalam ketaatan kepada perintah-perintahNya.
“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” Yohanes 10:10b
Kita terus berusaha mengarahkan hidup kita untuk mengikuti Tuhan dan rencanaNya, mengikuti dengan sepenuh hati. Maka hal yang terbaik akan kita nikmati. Jikalau Anda adalah penggemar olahraga dan Anda memutuskan untuk pergi ke pertandingan professional, Anda dapat membayar beberapa dollar, dan duduk di barisan paling atas di stadion, atau Anda merogoh beberapa ratus dollar dan duduk dekat dengan lapangan pertandingan. Demikian pula dengan hidup keKristenan.
Menyaksikan Tuhan bekerja SECARA LANGSUNG bukanlah bagian dari orang-orang Kristen hari Minggu. Menyaksikan Allah bekerja SECARA LANGSUNG adalah bagi murid-murid Tuhan yang sepenuh hati, yang telah berhenti mengejar keinginan mereka sendiri dalam hidup dan yang menjadikan Kristus menjadi prioritas utama.
MEREKA telah membayar harga (penyerahan penuh kepada Kristus dan kehendakNya); mereka menikmati hidup secara penuh; dan mereka bisa memandang diri sendiri, teman-teman mereka, dan Pencipta mereka tanpa ada penyesalan. Sudahkah Anda membayar harga? Apakah Anda bersedia? Jika demikian, Anda tidak akan pernah kehilangan makna atau tujuan hidup lagi.
Oleh: Ev. Liem Thin Ping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar